Kampung Lawas Maspati: Kebangkitan Kampung Indonesia

647 views
berita surabaya terbaru
berita surabaya terbaru tentang jejak sejarah surabaya

Tersebutlah di tahun 2012 ada sebuah kampung yang tengah bergeliat bersama warganya. Berawal dari keikutsertaan kampung di ajang Surabaya Green and Clean, kampung Maspati berhasil membangun dirinya menjadi satu ikon kampung tengah kota yang berdikari. Melalui kerja keras dan kreatifitas warganya sendiri, kampung Maspati tumbuh dan berkembang, menarik banyak mata untuk melirik pada kecantikan dan kearifannya.

Saya ingin membagi sedikit cerita, oleh-oleh dari perjalanan ke kampung ini, 04 Agustus lalu. Ada banyak nilai-nilai luhur hasil perjalanan kemarin, yang sayang jika hanya kami konsumsi sendiri. Ijinkan tulisan ini menceritakan sekelumit kisah sebuah kampung tengah kota yang tegak berdiri membanggakan kotanya.

Kita semua tahu bahwa Surabaya punya ajang kompetisi tahunan “Surabaya Green and Clean”. Ritual tahunan lomba kampung bersih dan hijau ini disambut meriah oleh banyak warga Surabaya. Tak terkecuali oleh warga Kampung Maspati.

Di Kampung Maspati ada 5 RT yang mengikuti lomba Green And Clean. Modalnya cukup banyak. Saat itu, kata pak Sabar bisa tembus 15-20 juta-an. Semua biaya ditanggung secara swadaya oleh warga sendiri.Buat beli pot, beli canvas, dll.

Saat itu di Surabaya baru ada satu-satunya kampung yang seluruh RT-nya ikut dalam lomba green and clean. Biasanya hanya ada satu perwakilan RT saja yang berpartisipasi dalam 1 RW-nya. Ada yang menarik disini. Ketika seluruh RT berpartisipasi, apakah efek yang muncul seluruhnya positif? Ternyata juga tidak.

Antar RT terjadi kompetisi sengit. Satu sama lain saling curiga, “gegerane” cukup panas juga. Sampai Bapak RW akhirnya ndak mau keluar kemana2, karena kalau keluar ke RT yang satu, RT yang lain sudah curiga kalau Pak RW lebih berpihak pada RT tadi. Wajar sih ya, dengan modal yang cukup besar, setiap warga pasti pingin RT-nya menang. Alhamdulillah, dengan segala dinamika, bermodal totalitas dan dedikasi pak RT dan warganya, semua bisa RT menjuarai lomba.

Nah, goal juara sudah tercapai. Selanjutnya apa? Banyak pertanyaan yang muncul..

What’s the next step setelah menjuarai green and clean?

Kampung ini mau dibawa kemana?

Sudah capek-capek menata, membersihkan, menanam ini-itu, lalu apa?

Setelah perjuangan yang cukup panjang dan modal yang besar ditanggung sendiri, lantas apa?

Semuanya akhirnya berpikir, iya ya, setelah ini lalu apa?

Sudah totalitas, habis banyak. Apa warga tiap hari cuma mau “ngopeni tanduran” bermodal sendiri-sendiri? Sampai kapan bertahan?

Apa yang dicari cuma Pak RT dan kampung maspati nya yang diacungi jempol, lalu selesai sudah?

Warga kampung bisa dapat apa secara jangka panjang?

Pertanyaan yang muncul menjadi bahan berharga yang menggerakkan diskusi kampung yang begitu gayeng. Pengurus kampung juga berdiskusi dengan beberapa akademisi yang berkunjung ingin melihat kampung maspati. Dari proses tersebut muncul satu solusi yang disepakati bersama:

Menjadikan Maspati sebagai Kampung Wisata. Lahirlah satu brand “KAMPUNG LAWAS”.

Disusul dengan kelahiran satu event besar tahunan yang keren yakni FESTIVAL KAMPUNG LAWAS di tahun 2013.

Setiap event tahunan, warga mencoba mengirim undangan ke presiden, gubernur dan walikota. Hingga baru pada tahun ketiga, undangan tadi bersambut, Ibu Walikota datang. Warga begitu antusias mempersiapkan kampungnya, menyambut Bu Walikota. Mulai dari tema, dresscode, aksesoris, event dolanan. Semuanya disiapkan untuk merepresentasikan bagaimana sebuah KAMPUNG tengah kota berjalan secara arif sesuai budaya kampungnya.

Di Festival, warga menyambut Bu Walikota dengan baju ala warga kampung surabaya. Sang Ibu pun berdecak kagum. Beliau sangat senang melihat cara warga kampung Maspati mengelola kampung, merawat kearifan lokalnya.

Dari situlah, kampung wisata Maspati terbentuk dan berkembang. Kini, setiap rombongan yang tertarik mempelajari sekaligus menikmati keindahan kampung ini dikenakan tarif tertentu oleh warga.

Kunjungan ke Maspati dikenakan biaya, tapi dapat apa? Dapat macem-macem.

Mulai dari suguhan musik patrol. Ada tiga grup musik: anak-anak, remaja dan lansia. Setiap grup yang tampil semuanya adalah warga kampung Maspati. Bisa belajar produk-produk unggulan Kampung Maspati. Yang mengajari wisatawan pun dari warga sendiri. Ada juga area Green, gambar-gambar 3D untuk selfie, juga homestay yang dikelola warga. Ada nilai sejarah yang bisa kita amati langsung. Ada RT kecil yang menyambut rombongan. (Khusus konsep RT kecil ini kapan-kapan saya tulis khusus ya, menarik banget pokoknya)

Inilah pemberdayaan ekonomi. Warga pun akhirnya semangat untuk terlibat. Warga yang terlibat adalah kunci pemberdayaan kampung. Tanpa warga yang mau terlibat aktif, bagaimana budaya kampung bisa dirawat dan tumbuh berkembang. Belajar dari pengurus Kampung Maspati:

Apapun idenya, apapun motifnya, jika tidak ada timbal balik ke masyarakat, Anda akan ditinggal. “Males, gawe opo, ngopeni anak bojo po’o, nonton tv neng omah, enak. Lapo atek meloki ide-ide e pengurus kampung.” Respon warga umumnya, yang sangat manusiawi tentu saja.

Kampung Maspati juga mengajarkan bahwa Bhinneka tunggal ika bukan untuk diteriakkan, tapi dilakukan. Jika kampung tengah kota habis tergilas modernitas, apa masih mau ngomong bhinneka tunggal ika?

Budaya kearifan lokal di kampung kuat, Bhinneka Tunggal Ika otomatis akan terjaga dengan sendirinya. Sebelum kampung mu dibeli orang, dijadikan mall, hotel, dll. Jadikan kampungmu baik supaya temanmu banyak, hingga mereka sama-sama menjaga kampungmu agar terus ada. Mereka tidak akan ikhlas kampungmu digusur dan diganti oleh mall, hotel dan gedung-gedung mewah pelayan kapitalisme.

Saat kami ngobrol dengan Pak Sabar soal bagaimana menjaga kearifan lokal, beliau bercerita begini: “Surabaya itu punya istilah Nggacor, Nggedabrus, dek. Kearifan lokal seperti ini bisa dirawat dengan kita bikinkan Posko Nggacor, Posko Nggedabrus. Dari posko ini akan hidup budaya diskusi para warga untuk membahas masalah-masalah di kampungnya.”

Kami sepakat dengan beliau. Kalau cara pandang kita cuma sepenggal, bahwa kata-kata nggacor dan nggedabrus itu terdengar kasar, kenapa mesti dilestarikan. Punten lho ya teman, cara pandang begitu malah akan membuat kita kehilangan peluang menghidupkan kampung dari kearifan lokalnya sendiri.

Apanya yang dihidupkan? Kepedulian warga untuk membahas masalah-masalah di kampungnya melalui posko nggacor dan nggedabrus tadi itu yang dihidupkan.

Satu lagi yang penting menurut saya. Kampung yang berdaya, cantik nan arif ini bisa menjadi satu pertahanan masyarakat dari kemungkinan penggusuran. Selama ini, sikap dan solusi yang muncul atas penggusuran selalu berkutat di wilayah hukum dan HAM. Mulai dari demonstrasi, aksi gelar spanduk tolak penggusuran, permintaan audiensi, adu bukti surat keterangan kepemilikan tanah, serta pindah ke rusun. Artinya, saat wacana penggusuran mengemuka, baru ada reaksi dan usaha dari warga.

Sedangkan penggusuran sendiri pada umumnya dilakukan untuk melakukan penataan sebuah kota, membersihkan kota, membuat lebih indah. Kalau wilayah tersebut sudah tertata, bahkan menjadi ikon kota yang banyak dilirik, yakin nih pemerintah kota masih mau menggusur? Saya rasa kok tidak.

Kampung akhirnya menjadi asset kota yang akan dijaga bersama-sama. Warga kota secara partisipatif menjadikan kampung-kampung mereka sebagai tempat hidup yang manusiawi bagi semua orang, bukan hanya segelintir orang yang memiliki akses terhadap sumber daya, lalu mau seenaknya merubahnya menjadi hotel, apartemen, mall dan proyek-proyek industri lainnya, yang malah menggusur warga asli yang sudah berpuluh tahun beranak-pinak di kampungnya.

Terima kasih Kampung Lawas Maspati, kalian mengajarkan saya banyak hal tentang menjaga kampung dan merawat kearifan lokal-nya. Sampai bertemu kembali.

 

Liputan khusus : Sinta Obong