Bedah Cerpen “Sang Badut dan Penyair” Karya Hamid Nabhan

268 views
Bedah Cerpen "Sang Badut dan Penyair" Karya Hamid Nabhan

hariansurabaya.com | Bedah Cerpen “Sang Badut dan Penyair” Karya Hamid Nabhan

Surabaya – Saat pandemi ini, pelukis dan budayawan asal Surabaya – Hamid Nabhan telah menerbitkan 5 buku. Diantaranya adalah cerpen berjudul Sang Badut dan Penyair. Beberapa hari lalu buku tersebut diulas secara virtual bersama Prof. Yakob Sumadjo, Sirikit Syah dan beberapa rekan lainnya.

Kritikus dan Guru Besar ISBI Bandung, Yakob Sumardjo menjelaskan jika sering kali diminta untuk mengulas karya Hamid. Hamid yang dikenalnya sebagai pelukis pemandangan alam, pelukis cat air tersebut ternyata juga menulis puisi-puisi dan membuat buku.

“Buku cerpen berjudul Sang Badut dan Penyairnya ini saya ulas bukan yang pertama, karya Pak Hamid lainnya juga beberapa kali saya ulas. Terakhir ya ini. Menurut saya, pak Hamid menekankan tokok fiktif yang dipilihnya yakni badut,” katanya.

“Saya lihat di Indonesia sendiri sang badut itu seperti punokawa dalam pewayangan. Tokoh badut adalah orang yang suka melucu, tapi kelucuan yang diciptakannya bukan yang rendah, namun ada filosofinya dalam konsep,” katanya lagi.

Sedangkan tokoh penyair adalah orang yang serius. Keduanya memiliki karakter kuat. Jadi ia menyarankan ketika ingin melanjutkan, silahkan fokus pada tokohnya. Ia juga mendorong untuk lebih menggali cerpen ini. Biasanya orang membuat cerpen pokok dari intk cerita hanya 2 bait. Bait lainnya melebar atau tidak nyambung.

Padahal bait lainnya seharusnya bisa menjelaskan inti cerita yang djmaksud. “Disini saya melihat cerpen pak Hamid sudah lumayan, ada bentuknya dan isinya serta pemilihan tokohnya juga bagus,” ungkapnya.

Sirikit Syah juga ikut berpendapat, bahwa konflik yang dibuat dalam cerpen karya Hamid ini sangat sederhana dan konfilknya hampir tidak ada. Ia juga menegaskan jika cocok disebut buku novel namun kurang panjang.

“Kalau mau menjadi Novel bisa expansi, dipanjangkan. Tapi secara umum menurut saya gagasan atau idenya belum ditulis orang lain. Idenya sangat menarik, sedikit memperpanjang bisa menjadi novel. Mudah-mudahan menjadi bacaan yang bermanfaat,” katanya.

Dalam virtual bedah buku tersebut, Hamid menceritakan jika sebetulnya cerita Sang Badut dan Penyair ini sederhana. Ceritanya ia buat dan selesai dalam semalam.

“Mungkin kebetulan lagi mood, jadi cepat selesai. Baru esok harinya saya perbaiki,” tandasnya.

“Saya berteriman kasih pada semua pihak terutama pada prof. Yakop atas masukkannya. Dan memang saat itu mau saya panjangkan tapi takut membosankan. Biasanya orang malas membaca karena kepanjangan ceritanya. Kedepannya akan saya perpanjang,” pungkasnya. (**)