SMA Negeri 10 Surabaya Terapkan Model Pembelajaran Kombinasi Daring dan Luring di Masa Pandemi Covid-19

hariansurabaya.com | SMA Negeri 10 Surabaya Terapkan Model Pembelajaran Kombinasi Daring dan Luring di Masa Pandemi Covid-19

Peran strategis guru tidak tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. Mengajar pada masa pandemi dengan model pembelajaran kombinasi daring dan luring atau blended learning dalam kelas virtual merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk guru di era New Normal. Menuntut kemampuan guru mampu mengendalikan konsentrasi peserta didik, mencari alternative agar kualitas pembelajaran tetap baik meski tidak bertemu secara langsung.

Komunikasi antara guru, peserta didik dan orang tua di masa pandemi benar-benar harus terjalin. Sesuai saran dari Mendikbud Nadiem Makarim “Seperti halnya murid. Inilah saatnya guru dan orang tua berinovasi dengan melakukan banyak tanya, banyak coba dan banyak karya”.

Tri Wahyu Liswati Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Surabaya, yang biasa di panggil bu Lis itu menjelaskan kepada hariansurabaya.com  bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan ringkas seperti berikut.

Misalnya pembelajaran per mapel menjadi 60 menit. Pembelajaran  tatap muka virtual diberikan selama 30 menit,   kemudian 15 menit pendalaman materi secara mandiri (luring) dan 15 menit jeda antar mapel.  Jika per mapel menjadi 90 menit, pembelajaran virtual selama 30 menit,  pendalaman materi secara mandiri 45 menit,  dan 15 menit jeda antar mapel.

Penentuan 30 menit tatap muka virtual bukan hal yang kaku. Menurut pandangan  saya,  untuk permulaan,  guru dan siswa berlatih dulu bertatap muka selama 30 menit. Setelah dilaksanakan dan diketahui kelebihan dan kekurangannya, tatap muka virtual, bisa ditambahkan,  atau bisa juga malah dikurangi. Mengemas learning   (90 menit) menjadi micro learning (30 menit tatap muka virtual,  dan 45 atau 15 menit luring)  menjadi salah satu solusi yang dapat ditawarkan.

Learning  bermakna mengajar selama 90 menit untuk 2 JP. Micro learning  mengacu pada pemberian pembelajaran dalam waktu 60 menit tetapi dengan hasil pembelajaran selama 90 menit. Untuk mencapainya dibutuhkan kecerdikan guru dalam mengemas  sajian pembelajaran dan mendampingi kegiatan pembelajaran yang membantu peserta didik mendapatkan pengalaman belajar secara optimal. Penyajian pembelajaran dengan micro learning,  terinspirasi dari Micro Blog yang bisa dijumpai di Instagram feed.

Blog merupakan laman yang berisi tulisan yang panjang, penjelasan disajikan secara sangat mendetil. Tulisan pada blog yang panjang tersebut sebetulnya dapat disajikan dalam bentuk ringkas. Misalnya dalam bentuk ringkasan, peta konsep, atau inti sari bacaan yang secara konten isinya sama.

Blog yang diringkas menjadi micro blog. Pada saat membaca micro blog, pembaca terbantu langsung mendapatkan langsung gagasan-gagasan pokok yang jika disajikan pada blog memerlukan berhalaman-halaman.

Sebagai respon terhadap pelaksanaan pembelajaran model kombinasi daring dan luring, pada saat tatap muka virtual, sajikan hal- hal yang sangat penting, yang membantu my darling menguasai kompetensi yang sedang dilatihkan.

“Pemetaan Kompetensi ini yang dilakukan denga PHB sangat diperlukan untuk penyelenggara SKS. Agar siswa yang bisa lulus 2 tahun, dapat terfasilitasi dan terlayani dengan tepat.” pungkas bu Lis. (madha)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − one =

Harian Surabaya @2018, All right reserved