Manfaatkan Medsos Untuk Jualan Agar Tetap Bertahan 

hariansurabaya.com | Manfaatkan Medsos Untuk Jualan Agar Tetap Bertahan

Sidoarjo – Menjadi seorang wiraswasta merupakan pilihan dari Dwi Ratna (39). Sekitar dua tahun lalu ia memulai bisnisnya dengan membuat minuman sinom, beras kencur dan kunyit asam. Selama itu pula usahanya makin membuahkan hasil. Banyak reseller yang bekerjasama, ia juga banyak menerima pesanan dari instansi dan perusahaan.

Namun ditengah kondisi pandemi saat ini ia mengaku penjualan produknya sedikit mengalami penurunan. Jika sebelumnya tiap bulan mampu terjual hingga 1200 botol, beberapa bulan belakangan hanya terjual antara 600 an saja. Harga perbotolnya yakni Rp. 8500.

“Sebelum pandemi sih rame. Maret lalu mulai ada penurunan jadi 850. Namun 2 bulan terakhir ini yang agak berat. Biasanya reseller saya yang aktif 10 orang, kini tinggal 3,” ujarnya.

Ia berpikir turunnya permintaan karena saat ini masyarakat lebih banyak tinggal dirumah karena efek dari WFH, jadinya mereka mengurangi biaya belanja.

Namun kondisi ini tak membuat Dwi putus asa, ia menggandeng digital branding untuk memasarkan produknya. Selain itu ia juga memanfaatkan media sosial untuk mengunggah video tentang proses pencucian bahan baku pembuatan minumannya, update foto produk di Instagram, facebook dan lainnya. Hal tersebut untuk meyakinkan calon konsumen bahwa proses dan produknya higienis.

“Sekarang alhamdulillah pemasaran sampai ke Bandung, Bogor dan Jakarta. Resellernya langsung dari sana. Mereka order seminggu sekali. Kalau dulu ambil sampai 70 botol, bulan-bulan belakangan ini sekitar 30 an. Kita paketkan melalui kereta api, sehari sudah sampai,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa produknya enggan jika disebut jamu, karena keduanya serupa tapi tak sama. Dari ketiga minuman tersebut, saat ini kunyit asam yang terlaris. Jika diprosentasekan sekitar 60 persen, sisanya beras kencur dan sinom.

“Sama-sama beras kencur atau sinom tapi kalau jamu kan rasanya kuat banget, sedangkan ini lebih ringan,” ujar perempuan asal Surabaya ini.

Dengan produk minumannya yang diberi nama “Mbok-Mbok” tersebut, Dwi berharap masyarakat peduli lagi terhadap minuman tradisional yang dulu sempat terlupakan. “Biar orang-orang nggak takut lagi sama jamu, saya ingin mensosialisasikan kembali ke hidup sehat agar tidak mengkonsumsi minuman jaman now melulu,” pungkasnya. (id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − five =

Harian Surabaya @2018, All right reserved