Jawa Timur menjadi Tuan Rumah Dialog Kebangsaan dengan tema “Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa”

44 views
Jawa Timur menjadi Tuan Rumah Dialog Kebangsaan dengan tema Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa
Jawa Timur menjadi Tuan Rumah Dialog Kebangsaan dengan tema Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa

hariansurabaya.com | SURABAYA – Kali ini Jawa Timur terpilih menjadi tuan rumah Dialog Kebangsaan “Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa” yang digelar di
Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (14/1) pagi.

Bukan tanpa alasan, pemilihan Jawa Timur sebagai tuan rumah berangkat dari data
yang dirilis oleh Kementerian Agama RI. Dimana berdasarkan data tersebut, Indeks
Kerukunan Umat Beragama (KUB) Jawa Timur pada tahun 2021 menembus angka
77,8 persen.

Capaian itu menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan Indeks KUB tertinggi se-
Pulau Jawa. Angka tersebut bahkan tercatat lebih tinggi dari capaian nasional yang
berada pada angka 72,9 persen.

Masih dari data yang sama, posisi kedua setelah Jatim ditempati Provinsi D.I
Yogyakarta dengan 77,1 persen, Jawa Tengah 77 persen, Jawa Barat 72,7 persen,
DKI Jakarta 72,2 persen dan Banten 69,6 persen.

Atas capaian tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir
langsung pada Dialog Kebangsaan tersebut menyampaikan, bahwa ini merupakan
hasil dari sinergitas, kolaborasi, gotong royong dan tepo seliro yang terjalin di
seluruh elemen di Jatim.

“Kami bersyukur bahwa Indeks KUB Jatim pada 2021 berdasarkan data Kemenag
RI 77,8 persen. Sedangkan nasional adalah 72,9 persen” ungkap Gubernur
Khofifah.

Selain itu menurut Khofifah, juga terdapat moderasi, saling tafahum dan toleransi di
dalamnya. Meskipun ada perbedaan-perbedaan pula di dalamnya, tetapi ada understanding diantara satu dengan yang lain. Yang dilanjutkan respect dan trust satu sama lain. Inilah yang telah mengantarkan capaian indeks KUB Jatim mencapai 77,8 persen.

Lebih lanjut, Khofifah meyakini bahwa dengan meningkatnya angka Indeks KUB Jatim ini juga akan berbanding lurus dengan peningkatan moderasi agama di Indonesia. Mengingat Indeks KUB merupakan salah satu barometer moderasi agama di Indonesia.

“Oleh karena itu saya selalu pesan, Jatim tidak boleh batuk. Kalau sampai batuk,
droppletnya bisa sampai ke Ibukota. Sehingga saling tawahum (memahami) antara
satu dengan yang lain adalah bagian yang harus kita bangun. Karena Mutual respect ini sangat dibutuhkan untuk bisa menjalin Trust atau
kepercayaan satu sama lain.” jelas Khofifah.

Di akhir, Gubernur Khofifah juga menyampaikan terima kasih atas terpilihnya Jawa
Timur sebagai tuan rumah penyelenggaraan Dialog Kebangsaan kali ini. Secara
khusus, dirinya menyebut acara ini sebagai booster nasionalisme.

“Terima kasih atas dipilihnya Gedung Negara Grahadi untuk membangun Dialog
Kebangsaan. Ini adalah bentuk booster nasionalisme dan Pancasila sebagai ideologi
pemersatu bangsa. Dimana, kita akan mendengar banyak pikiran strategis yang
memiliki makna kuat bagi kita semua” pungkasnya.

Sementara itu Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan, dari berbagai studi
menyebutkan pada tahun 2023 ini akan terjadi itu perfect storm atau bencana
ekonomi yang luar biasa. Yakni resesi ekonomi yang mengakibatkan inflasi dan
deflasi di hampir semua negara di dunia.

“Bila Bangsa Indonesia tidak setangguh dan sekuat seperti masa perjuangan Tahun
1945, maka kita bisa ikut terkena imbasnya dari bencana ekonomi. Apalagi saat ini
di International Monetary Fund (IMF) sudah ada 16 negara yang harus mendapat
bantuan dana dan ada 30 negara lagi antre untuk mendapat bantuan. Artinya ini
serius, kita akan berusaha agar tidak antre disitu,” katanya

Dalam situasi ini, Mahfud menegaskan, Indonesia harus kembali ke Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Jangan sampai warga bangsa saling mencari selamat sendiri-sendiri berdasar ikatan primordial masing-masing dan ingin saling mendominasi.

“Itu berbahaya sekali. Maka dari itulah perlunya kita bicara mengingatkan Pancasila
sebagai ideologi pemersatu bangsa,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof. Yudian Wahyudi mengatakan, generasi masa kini patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki Founding Father atau pendiri dan proklamator Bangsa Indonesia seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang meletakkan pilar dan ideologi bangsa yakni Pancasila.

“Kehebatan Pancasila adalah konsistensi seluruh masyarakat Indonesia dalam
menjaga persatuan dan kesatuan. Pengorbanan dan keikhlasan para founding father
yakni proklamator Bung Karno dan Bung Hatta harus menjadi cambuk untuk
menjaga NKRI hari ini hingga masa depan.” urainya.

Menurutnya, Pancasila dalam perspektif Islam adalah istijabah atau doa yang
dilantunkan oleh para Nabi yang keberkahannya dirasakan oleh seluruh masyarakat
Indonesia. Lewat Ideologi Pancasila, Indonesia mampu menjaga harmoni, kerukunan,
keamanan dan ketertiban diantara masyarakat yang membentang dan terpisahkan
dari beribu pulau, suku dan agama.

Sementara, hadir khusus sebagai narasumber pada diskusi panel Dialog Kebangsaan, Gubernur D.I.Y Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan, dalam Pancasila terkandung Bhineka Tunggal Ika yang dijamin oleh konstitusi. Untuk itu, ketika ada masalah perlu diingat bahwa sesama anak bangsa, harus saling menghargai karena kemajemukan itu sudah luluh dalam Kebhinekaan.

Dirinya mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa depan sangat luar biasa. Sehingga, diperlukan pemimpin sekaligus generasi di masa depan bisa menatap tegas ke depan, tanpa menoleh ke belakang.

“Harapan saya dalam UUD, jangan hanya mengatakan Bhineka Tunggal Ika adalah
lambang negara, tetapi harus kita aplikasikan menjadi strategi integrasi bangsa.
Itulah pilihan kita untuk berbangsa dan bernegara.” tegasnya.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi panel Dialog Kebangsaan ini selain Sri
Sultan HB X, Dr. KH. Wahid Maktub dan Tokoh agama Wilayah Madura KH. Zawawi
Imron.

Turut hadir dalam forum, antara lain Istri Gubernur D.I.Y Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Pangdam V/Brawijaya Mayjend TNI Farid Makruf, Wakapolda Jatim Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo, Ketua Gerakan Peradaban Indonesia H. Ahmad Zaini, Rektor Unitomo sekaligus Ketua Pelaksana Dr. Siti Marwiyah, jajaran Deputi Menkopolhukam RI, pimpinan Pondok Pesantren di Jatim, serta beberapa Ka. OPD Pemprov Jatim. (ac)