13 Delegasi dari Kamboja Belajar Pengelolaan Lingkungan di Surabaya

91 views
(rur/hariansurabaya.com)

SURABAYA – Sebanyak 13 delegasi terdiri Walikota dan dirjen Kementerian Lingkungan Kamboja serta lima petinggi Global Green Growth Institute (GGGI), mengunjungi Surabaya untuk belajar Pengelolaan Lingkungan. Kedatangan delegasi negara sahabat ini, disambut Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di Balai Kota Surabaya, Selasa (14/8/2018).

Deputy Secretary General, National Council of Sustainable Development Cambodia, H. E. E. Vuthy mengapresiasi Surabaya yang mendapatkan berbagai penghargaan di bidang pengelolaan lingkungan dalam skala nasional maupun internasional.

Menurutnya, inovasi yang dilakukan ini menarik mereka untuk melihat langsung implementasi pengelolaan lingkungan. Dalam kesempatan tersebut Wali Kota Risma memaparkan berbagai inovasi dan pencapaian Surabaya terkait pengelolaan lingkungan.

Saat ini, lanjut Risma, Pemkot Surabaya membuat Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya) seluas 2.871 ha  untuk keamanan kota agar tidak terpapar banjir Rob. “Kami juga membangun waduk dan hutan kota untuk persediaan air,” imbuh Risma.

Lebih lanjut dikatakan Risma, sebanyak 420 taman kota tersebar di seluruh wilayah. sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan, rekreasi warga dan tempat bersosialisasi warga.

“Taman-taman yang dibangun dilengkapi dengan lapangan olahraga dan free wifi,” tukas Risma.

Risma melanjutkan, jalur hijau dengan total 35 ha dibangun untuk menyerap karbon dioksida yang dikeluarkan kendaraan bermotor. Jalur hijau dibuat mirip dengan hutan agar karbon dioksida maksimal diserap oleh pohon agar karbon dioksida tidak sampai ke perumahan warga.

Dikatakan Risma, untuk merawat taman dan jalur hijau Pemkot membangun 26 unit rumah kompos di beberapa tempat. Rumah kompos juga dibangun untuk mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir. Beberapa rumah kompos dapat menghasilkan listrik untuk menerangi taman dan kawasan sekitar rumah kompos.

Selain itu, masyarakat telah dilatih untuk membuat kompos secara mandiri dengan memanfaatkan komposter dan keranjang takakura. Kompos yang dihasilkan warga dapat dijual dan dimanfaatkan sendiri oleh warga untuk urban farming.

“Kami juga membantu pemberian bibit secara gratis kepada warga. Dengan adanya program urban farming tersebut dapat meningkatkan pendapatan warga,” harapnya.

Sementara untuk meningkatkan partisipasi warga dalam pengelolaan lingkungan dan transportasi massal, Surabaya memiliki Suroboyo Bus di jalan utama.

“Warga dapat mengakses fasilitas Suroboyo Bus hanya dengan menukar tiket naik dengan botol air meneral dan sampah plastik, Kini terkumpul berton-ton sampah plastik yang nantinya akan ditenderkan,” pungkasnya. (rur)