
hariansurabaya.com | SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperluas dampak penguatan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui rangkaian Community & Technological (CommTECH) Camp Stream 2: SDGs Innovations 2026.
Salah satu kegiatan yang diusung ialah pengenalan Sustainable Community di SMP YPPI 1 Surabaya dengan menghadirkan 43 peserta internasional untuk berbagi wawasan terkait pembangunan berkelanjutan.
Manager for CommTECH and Short Program Direktorat Kemitraan Global ITS Muh Wahyu Islami Pratama Maoundu ST MHub Int menjelaskan bahwa kegiatan ini memperkuat pertukaran budaya antarnegara sekaligus mengenalkan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam komunitas sekolah.
“Peserta dan siswa dapat saling belajar mengenai peran komunitas dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan,” tutur lelaki yang akrab disapa Wahyu ini.
Ia melanjutkan bahwa peserta yang berasal dari beberapa universitas di Jepang, Malaysia, Thailand, Filipina, Kanada, Taiwan, Rusia, Nepal, Korea, Kamboja, Tiongkok, Vietnam, dan India tersebut mengikuti tiga rangkaian lokakarya interaktif.
Pada bagian pertama, delegasi diperkenalkan pada produk olahan khas Indonesia dan mancanegara yang dikembangkan secara mandiri oleh pihak sekolah. Peserta juga berkesempatan untuk mempraktikkan proses memasak dengan pendampingan siswa dan guru SMP YPPI 1 Surabaya.
Pada sesi berikutnya, partisipan internasional mengenal proses pembuatan batik tulis sebagai warisan budaya Indonesia dengan mencoba teknik mencanting hingga pewarnaan kain.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya seni dan kerajinan, di mana delegasi diajarkan membuat karya dengan teknik mengukir menggunakan solder untuk menghasilkan motif berciri khas Indonesia.
Kepala SMP YPPI 1 Surabaya Dra Titris Hariyanti Utami MSi menjelaskan bahwa SDGs telah terintegrasi dalam nilai utama dan kurikulum sekolah, sehingga rangkaian kegiatan ini menjadi sarana praktik siswa untuk menampilkan dan mengenalkan pembelajaran yang diterapkan.
“Karya yang dikembangkan sekolah merupakan hasil kreativitas siswa yang memanfaatkan potensi di lingkungan sekitar,” paparnya.
Titris menekankan bahwa pembelajaran berbasis pengolahan limbah menjadi salah satu fokus utama sekolah. Salah satu contohnya adalah pengolahan limbah batik berbahan lilin, yang dimanfaatkan kembali menjadi lilin aromaterapi.
Selain itu, proses pencucian kain menggunakan metode alami untuk menurunkan kadar pH sebelum dibuang, sehingga lebih ramah lingkungan. Ia berharap praktik pengetahuan semacam ini dapat menjadi ruang pertukaran wawasan antara siswa dan peserta internasional.
Salah satu peserta CommTECH Camp 2026 Malissa Hartzenberg menilai lokakarya yang dikemas secara interaktif ini mempermudah proses pembelajaran, terlebih karena fokus studinya berkaitan dengan teknologi.
Dari kegiatan tersebut, ia melihat penerapan teknologi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan yang berbeda.
“Uniknya, elemen budaya dapat berjalan seiringan dengan inovasi teknologi,” ungkap mahasiswa University of the Fraser Valley, Kanada tersebut.
Kegiatan ini turut merefleksikan peran ITS dalam mendukung capaian SDGs poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Selain itu, rangkaian lokakarya yang dilaksanakan juga mendukung capaian SDGs poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. (acs)














