
hariansurabaya.com | SURABAYA – Suasana Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Sabtu siang terasa lebih hangat dari biasanya.
Di hadapan para akademisi, mahasiswa, dan tamu undangan, Prof. Mohamad Yusak Anshori berdiri dengan tenang. Nada bicaranya tidak menggelegar, namun gagasan yang ia sampaikan justru terasa dalam dan menggugah.
Sabtu (14/2) siang, Unusa resmi mengukuhkan dirinya sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen Pertama di Unusa. Namun bagi Prof. Yusak, pengukuhan tersebut bukanlah garis akhir perjalanan akademik. Justru, itu menjadi momentum memperkenalkan gagasan yang telah lama ia renungkan: Softbrain Engineer.
Perjalanan intelektual peria kelahiran, Kediri 13 Oktober 1967 ini tidak dibangun secara instan. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani dua dunia yang sering dipandang berbeda: dunia akademik dan dunia praktik manajemen korporasi.
Pengalaman panjangnya dalam dunia profesional membuatnya menyaksikan langsung bagaimana organisasi sering kali terjebak pada pendekatan mekanistik. Target dikejar, sistem diperkuat, teknologi diperbarui, namun satu aspek kerap terlewat: kondisi psikologis manusia yang menjalankan semua itu.
Pengalaman tersebut kemudian membentuk cara pandangnya. Ia mulai tertarik menggali lebih dalam bagaimana otak manusia bekerja dalam proses pengambilan keputusan, beradaptasi terhadap tekanan, hingga membangun kolaborasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas akademiknya melonjak pesat. Lebih dari 30 buku manajemen berhasil ia terbitkan hanya dalam kurun waktu satu tahun. Karya-karyanya tidak sekadar teoritis, tetapi lahir dari refleksi panjang atas pengalaman memimpin, mengamati, sekaligus membimbing berbagai organisasi.
Melampaui Soft Skills
Dalam orasi ilmiahnya, ayah dua orang anak ini menyampaikan kegelisahan intelektualnya terhadap konsep soft skills yang selama ini dianggap cukup untuk membangun kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, pelatihan perilaku sering kali hanya menyentuh permukaan. Perubahan yang dihasilkan bersifat sementara, karena tidak menyentuh mekanisme dasar cara manusia berpikir dan merespons situasi. Dari sinilah lahir konsep Softbrain Skills.
Ia menjelaskan, penguatan kualitas manusia perlu dimulai dari pemahaman tentang cara kerja otak, emosi, dan proses kognitif. Konsep ini dibangun melalui empat dimensi utama: regulasi emosi, kelincahan kognitif, kecerdasan kolaboratif, dan resiliensi emosional.
Bagi Prof. Yusak, keempat dimensi tersebut bukan sekadar teori manajemen, melainkan fondasi membangun manusia yang mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, menilai pemikiran Prof. Yusak sejalan dengan arah transformasi kampus yang dirumuskan dalam strategi GREATS: Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability.
Menurutnya, Softbrain Engineer menghadirkan pendekatan manajemen yang lebih humanistik dan relevan dengan tantangan masa depan.
Transformasi organisasi, kata Rektor, tidak cukup hanya mengandalkan inovasi teknologi. Organisasi membutuhkan manusia yang memiliki ketahanan mental, kemampuan beradaptasi, serta kecerdasan emosional yang matang.
Manusia, Pusat Organisasi
Bagi suami dari Sadworo Ramadani ini, konsep Softbrain Engineer sesungguhnya adalah upaya mengembalikan manusia sebagai pusat organisasi. Ia meyakini bahwa keberhasilan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh sistem yang kuat, tetapi juga oleh kualitas mental dan emosional orang-orang di dalamnya.
Ke depan, ia berharap gagasan ini tidak berhenti di ruang akademik. Softbrain Engineer diharapkan dapat menjadi inspirasi pengembangan kurikulum pendidikan, pelatihan kepemimpinan, hingga kebijakan pengembangan sumber daya manusia di tingkat nasional.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Prof. Yusak memilih menempuh jalan yang mungkin tidak selalu terlihat ramai. Ia menelusuri lorong sunyi ilmu pengetahuan, mencoba memahami cara kerja otak manusia, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa manajemen modern.
Pengukuhan guru besar itu pun menjadi penanda bahwa perjalanan panjang tersebut kini memasuki babak baru—sebuah perjalanan untuk membangun organisasi yang tidak hanya cerdas secara sistem, tetapi juga matang secara kemanusiaan. (ist)














