Upacara Adat Kebo-keboan, Tradisi Lampau Yang Masih Bertahan

381 views

Dikenal sebagai salah satu kantong kebudayaan Osing—Singojuruh memiliki tradisi yang masih bertahan hingga sekarang—tepatnya di dusun Krajan, Desa Alas Malang. Tradisi yang dikenal dengan upacara adat kebo-keboan ini sudah ada sejak 300 tahun silam, sewaktu serangan wabah penyakit (pagebluk) datang. Dipelopori oleh Buyut Karti selaku tokoh setempat, ritual kebo-keboan digelar untuk menghalau bencana yang terjadi di wilayahnya (tolak bala).

Dalam pelaksanaannya, upacara kebo-keboan diawali dengan barikan atau selamatan yang digelar di tengah jalan desa. Pada tahap ini seluruh masyarakat berkumpul dan menikmati makanan yang dibawa bersama-sama usai didoakan. Tidak lupa membawa sesaji berupa tumpeng, peras, air kendi, ingkung, aneka jenang, kinang ayu, dan beragam kelengkapan lainnya seperti bungkil, singkal, pisang, kelapa, hingga bibit tanaman padi.

Tahun ini ada sedikit perbedaan soal pelaksanaan selamatan. Agar lebih khidmat selamatan justru dilakukan sehari sebelumnya yakni Sabtu (22/9/2018), sementara tahun-tahun sebelumnya digelar pagi hari sebelum ritual kebon-keboan dilaksanakan. Minggu pagi (23/9/2018) pelaksanaan upacara adat kebo-keboan diawali dengan pawai ider bumi. Di mana seorang perempuan cantik yang melambangkan Dewi Sri (simbol kesuburan) yang duduk dalam tandu diarak bersama pengiringnya, kebo-keboan, pawang, para petani, juga kesenian hadrah dan barongan.

Tiga puluh pria yang menjadi kebo-keboan ini sengaja didandani menyerupai kerbau (kebo), lengkap dengan lonceng di leher dan tanduk di kepala. Sementara badannya dicat warna hitam menggunakan campuran oli dan arang. Para pria ini diyakini kerasukan.

Tidak mengherankan apabila mereka berkubang dan bergulung-gulung di lumpur sebagaimana kerbau. Usai diarak ke empat penjuru mata angin dengan iringan gending khas Osing, pawai tersebut berakhir di areal persawahan yang terdapat di ujung desa. Di tempat ini kebo-keboan akan melakoni prosesi terakhir yakni membajak sawah dan menabur benih padi yang akan diperebutkan oleh masyarakat. [Ay]