Nusantara Kita Foundation Dan LIRA Rumuskan Pelestarian Budaya Berbasis Alam Yang Inklusif Di Mojokerto

35 views
LIRA
Nusantara Kita Foundation Dan LIRA Rumuskan Pelestarian Budaya Berbasis Alam Yang Inklusif Di Mojokerto (foto : abdul majid)

hariansurabaya.com | Nusantara Kita Foundation Dan LIRA Rumuskan Pelestarian Budaya Berbasis Alam Yang Inklusif Di Mojokerto

Mojokerto – Asosiasi Seniman LIRA Indonesia “ASLI” jawa Timur, DPD LSM LIRA kota Surabaya dan LIRA Disability Care “LDC”, melakukan safari kebudayaan di balai paseban PHRS di kaki gunung Penanggungan/Seloliman yang dikelola oleh Nusantara kita foundation “NKF”.

“Saya ucapkan terimakasih banyak atas kunjungan dari kawan-kawan LIRA yang telah sudi mampir di pondok kami untuk kembali sambung roso “menyambung rasa”, katanya kepada media minggu/17/11/2021 di balai paseban PHRS.” sambut pendiri Nusantara kita foundation “NKF” Ida Widyastuti.

Kepada media, perempuan pemilik nama lain Sekar Kinasih ini menjelaskan bahwa NKF dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 2018. Latar belakang mendirikan NKF karena keprihatinan mendalam atas maraknya sejumlah paham dan ajaran (baik lokal maupun asing) serta tradisi dan budaya luar yang masuk dan “menyerbu” secara masif-intensif di Indonesia.

“Perkembangan aneka paham, ajaran, tradisi, dan budaya ini telah membuat generasi kita melupakan paham, ajaran, tradisi, dan budayanya sendiri serta nilai-nilai luhur para leluhur bangsa, kata wanita Yang juga seorang pengusaha, seminaris, dan motivator itu. Jika fenomena ini dibiarkan, maka pelan tapi pasti, kelak bangsa Indonesia akan kehilangan jati diri mereka sebagai sebuah bangsa, menjadi bangsa yang asing dengan paham, ajaran, tradisi, dan budayanya sendiri.”papar wanita yang pernah menerima berbagai penghargaan seperti The Winner of Winning Woman Entrepreneur dari Ernst & Young Enterpreneur, pemenang pertama wanita wirausaha mandiri dari Majalah Femina, Perempuan Inspiratif dari Tabloid Wanita Nova itu.

Pihaknya juga merinci, salah satu strategi memperkenalkan seni dan kebudayaan peninggalan leluhur nusantara kepada generasi millennial adalah dengan cara membuat balai paseban PHRS dan lahan yang ia kelola menjadi tempat pariwisata budaya dan spiritual yang berbasis alam.

“Kita sudah mendapatkan ijin dari PERHUTANI untuk mengelola tempat yang indah dan luas ini. Kedepannya, akan kita lengkapi juga dengan fasilitas seperti homestay, pusat meditasi berbasis alam dan fasilitas tracking menuju ke puncak gunung penanggungan, paparnya. Bersama kawan-kawan asosiasi seniman LIRA Indonesia “ASLI”, kita akan kembali membersihkan punden yang beberapa waktu lalu baru kita temukan dan masih butuh kita bersihkan lagi,” tambahnya.

“Lebih dari itu, kita sudah mempersiapkan lahan khusus pusat tanaman herbal alami. Yang mana akan mempunyai dampak dan nilai ekonomi yang tinggi dengan produk turunan seperti minyak aroma terapi, dan minyak urut untuk massage.” sambungnya.

Sementara itu, Ketua LIRA Disability Care “LDC” Abdul Majid, merespon positif ajakan kolaborasi untuk mengembangkan paseban sebagai satu destinasi wisata yang inklusif, mudah diakses dan ramah bagi penyandang disabilitas.

LIRA
Abdul Majid dan Ida Widyastuti (foto : abdul majid)

“Tadi sudah mendapatkan kesamaan persepsi dengan bunda sekar kinasih untuk mengembangkan balai paseban sebagai destinasi pariwisata kebudayaan dan spiritual berbasis alam yang inklusif,” jelas Majid.

Majid juga berharap, kedepannya tinggal komunikasikan saja dengan stake hoder terkait dalam hal ini pemerintah, masyarakat dan para investor untuk berkolaborasi mewujudkan gagasan yang baik ini.

“Bagi para penyandang disabilitas, mungkin infrastruktur yang aksesibel menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi tempat ini. Tadi juga sudah saya coba untuk melakukan tracking, hasilnya cukup mudah diakses, tinggal memberikan fasilitas penunjang seperti bidang miring “ram”, betonisasi di beberapa sisi, dan edukasi untuk pengurus saja agar memahami tata cara berinteraksi dengan wisatawan penyandang disabilitas, tandasnya”.

Sejurus, Ketua LIRA Asosiasi Seniman LIRA Indonesia “ASLI” Jawa Timur Abdoel Semut mengaku senang dapat kembali mengunjungi lokasi tersebut.

“Iya tadi kita datang kembali bersama kang Majid ketua LDC, mas indra permana walikota DPD LSM LIRA Surabaya, dan beberapa anggota ASLI diantaranya mas helmi, kang soleh dan cak sapta. Inshaa Alloh kita akan kembali membersihkan punden temuan yang beberapa waktu lalu sudah kita bersihkan. Namun, masih butuh babat-babat lagi dan pembersihan lokasi sekitarnya, ujar seniman asal Surabaya itu”. ujar kang Semut.

“ASLI berkomitmen akan melestarikan seluruh situs kebudayaan yang sudah ada, ataupun situs yang baru ditemukan oleh masyarakat. Karena kalau bukan kita yang menjaga peninggalan leluhur, terus siapa lagi yang mau menjaga dan melestarikannya,” pungkas youtuber di kanal Sabda Aksara Channel itu. (am)