
hariansurabaya.com | SURABAYA – Crown Prince Hotel Surabaya menggelar program “Trainee to Trainee” sebagai wadah berbagi pengalaman antar peserta magang lintas departemen pada Senin (13/07).
Kegiatan yang diikuti sekitar 20 siswa dan mahasiswa magang dari berbagai sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi ini bertujuan memperluas wawasan peserta mengenai dunia perhotelan sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dan presentasi.
Berlangsung di Crown Prince Hotel Surabaya, program tersebut menghadirkan Cantika Putri (21), mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang sedang menjalani program magang di Department Marketing.
Dalam kesempatan ini, Cantika (sapaan akrabnya) menjadi pemateri di hadapan 20 siswa & siswi magang & perwakilan karyawan Crown Prince Hotel. Dalam sesi materi milik Cantika, dengan tajuk “Brand Identity of Crown Prince Hotel”, Cantika membagikan pemahamannya mengenai pentingnya identitas merek dalam membangun pengalaman tamu serta peran setiap departemen dalam menjaga konsistensi pelayanan hotel.
Cantika mengatakan kesempatan menjadi pembicara memberikan pengalaman baru yang memperkaya proses belajarnya selama menjalani program magang.
“Saya sekarang tahu & lebih tersadar, kalau identitas suatu hotel itu dibangun oleh setiap orang yang bekerja di dalamnya, bukan kami saja (departmen marketing). Kesempatan berbagi pengalaman dengan sesama trainee & terlebih ke bapak dan ibu karyawan (Crown Prince Hotel) menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkembang, baik secara akademik maupun profesional,” ujarnya.
Cantika menyampaikan bahwa kegiatan ini layaknya“uang saku” untuknya dalam kelak meniti karir.
“Saya yakin ini (program Trainee for Trainee) berguna untuk saya dalam beraspirasi di lingkungan kerja saya kelak”, pungkasnya.
Human Resources Manager Crown Prince Hotel Surabaya, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif & setara bagi para peserta magang.
“Program magang tidak hanya berfokus pada pembelajaran teknis di masing-masing departemen. Kami ingin para trainee juga memiliki keberanian menyampaikan ide, berbagi pengalaman, serta memahami bagaimana setiap departemen saling berkontribusi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada tamu,” kata Hendra.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran antarsesama peserta magang dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memperluas perspektif peserta terhadap operasional hotel secara menyeluruh.
“Hotel bisa sukses secara bisnis dan terlebih secara pelayanan ya bukan karena pegawai saja, tapi mereka (siswa & siswi magang) bisa dikatan ‘tombak’ terdepan kami, karena seringnya ‘guest contact’ yang mereka alami setiap harinya”, tegas Hendra dalam sesi wawancara.
Salah satu peserta, Anam (20), siswa magang Housekeeping Department dari SMKN 1 Bangkalan, mengaku memperoleh banyak wawasan baru melalui kegiatan tersebut.
“Selama ini saya lebih banyak belajar di Housekeeping. Setelah mengikuti sesi ini, saya menjadi lebih memahami bagaimana identitas hotel juga dibangun melalui pekerjaan setiap departemen,” ungkapnya.
Menurut Anam, tidak semua peserta magang mendapat departemen yang mereka inginkan, terkadang karena kuota posisi yang diinginkan sudah terpenuhi, maka mereka harus ditempatkan di departmen atau posisi lain.
“Untungnya departmen Housekeeping incaran utama saya, tapi saya juga senang, saya tidak perlu untuk megang lagi di departmen Marketing untuk mengerti tentang dunia marketing, karena tadi (saat Cantika mempersentasikan) sudah dijelaskan,” ujar Anam.
Pendapat serupa disampaikan Rafiq (21), mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang yang menjalani program magang di Human Resources Department. Ia menilai forum diskusi antarsesama trainee mampu mempererat hubungan sekaligus memperluas pemahaman mengenai industri perhotelan.
“Kegiatan ini membuat kami saling mengenal dan memahami proses kerja di departemen lain. Pengalaman seperti ini menjadi nilai tambah selama menjalani program magang,” ujarnya.
Theo selaku Public Relations Executive Crown Prince Hotel Surabaya sekaligus pembimbing Cantika selama menjalani program magang di Department Marketing, mengatakan bahwa setiap peserta magang memiliki potensi untuk menjadi sumber pembelajaran bagi rekan-rekannya.
“Melalui program ini kami ingin memberikan ruang bagi para trainee untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki, terlebih rasa berbagi pengalaman ke sesama rekan magang. Pengalaman yang mereka bagikan menjadi pembelajaran yang relevan karena berasal dari proses yang sedang mereka jalani langsung. Terasa lebih mudah menyampaikan materi magang karena mereka (peserta magang) menggunakan pendekatan & penggunaan bahasa sebaya.” jelas Theo.
Melalui program “Trainee to Trainee”, Crown Prince Hotel Surabaya terus mendorong terciptanya budaya belajar yang kolaboratif, komunikatif & setara, sehingga tidak hanya dari karyawan saja yang memberikan materi kepada peserta magang, namun peserta magang juga diberikan ‘panggung’ untuk dapat mengutakaran aspirasi, pengalaman & ilmu yang telah mereka terima selama magang.
Program ini diharapkan mampu membentuk sumber daya manusia muda yang adaptif, profesional, dan siap menghadapi tantangan industri perhotelan di masa depan dengan ‘gaya bahasa’ masing-masing. (adv)









