Wyndham Surabaya City Centre Hadirkan Ruang Estetika 2.0 dan Goresan Estetika untuk Dukung Komunitas Seniman Jawa Timur

Wyndham Surabaya City Centre Hadirkan Ruang Estetika 2.0 dan Goresan Estetika untuk Dukung Komunitas Seniman Jawa Timur (foto : ist)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Wyndham Surabaya City Centre berkolaborasi dengan Adi Cipta Karya, komunitas seniman Jawa Timur, untuk menghadirkan pameran seni bertajuk Ruang dan Goresan Estetika yang berlangsung di lobi hotel mulai 13 hingga 31 Agustus 2026.

Pameran ini menampilkan sekitar 25 karya seni yang mengangkat tema perjuangan dan keberagaman budaya Nusantara. Seluruh lukisan yang dipamerkan juga dapat dibeli langsung oleh para tamu untuk mendukung karya para seniman lokal.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, Wyndham Surabaya juga menyelenggarakan workshop melukis pada Sabtu, 22 Agustus 2026 yang terbuka bagi tamu hotel maupun masyarakat umum.

Workshop tersebut dipandu oleh Bangun, seniman dari Adi Cipta Karya yang akan membagikan teknik dasar melukis, eksplorasi warna, serta cara menuangkan ide dan karakter ke atas kanvas. Seluruh peserta dapat membawa pulang hasil karya mereka sebagai kenang-kenangan.

George Wenur, General Manager Wyndham Surabaya City Centre, mengatakan “Surabaya memiliki komunitas seni yang terus berkembang dan penuh potensi. Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi wadah bagi para seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus memberikan suasana yang berbeda bagi setiap tamu yang menginap.”

Senada dengan hal tersebut, Ketua Adhicipta Art Community, Q Sakti Laksono, memaparkan keunikan dan kekuatan mendasar dari komunitas yang dipimpinnya. Adhicipta Art Community hadir sebagai rumah inklusif yang mempersatukan individu dari pelbagai latar belakang profesi, mulai dari perupa profesional, dokter hewan, penyair/sastrawan, insinyur teknik sipil, arsitek, hingga praktisi perbankan. Mereka bersatu di bawah payung minat yang sama: menghadirkan keindahan visual bagi bumi Indonesia.

“Adhicipta Art Community merupakan teras seni & jendela budaya Indonesia, adalah rumah bagi siapa saja yang mencintai seni dan budaya… Disini kami memiliki minat yang sama yaitu berkontribusi menghadirkan keindahan di bumi Indonesia melalui media berkesenian,” jelas Q Sakti Laksono.

Sakti mengungkapkan rasa terima kasih dan optimismenya terhadap dampak pameran ini bagi lanskap seni rupa nasional. Kolaborasi dengan Wyndham Surabaya dipandang sebagai langkah nyata dalam mendekatkan seni kepada masyarakat luas.

“Buat seniman lukis Adhicipta Art Community yang berpameran, selamat berpameran semoga pameran ini nanti akan memberikan catatan berarti buat perkembangan seni lukis di tanah air,” harap Sakti.

Sementara itu, Heti Palestina Yunani selaku penulis dan pengantar esai pameran, menyoroti makna filosofis di balik pemaknaan kemerdekaan di era modern. Ia menilai bahwa tantangan terbesar insan kreatif hari ini adalah melawan “penjajahan cara pandang” atau penyeragaman selera dalam dunia seni rupa.

“Ada satu penjajahan paling senyap yang berbahaya, yakni penjajahan cara pandang di dalam lingkup kreativitas—misalnya meyakini satu cara yang benar untuk berpikir, merasa, dan mencipta. Dalam konteks dunia seni rupa, penjajahan itu terlihat dalam bentuk selera tunggal,” tegas Heti Palestina Yunani.

Lebih lanjut, Heti menegaskan bahwa pameran ini menjadi wadah nyata bagi munculnya kejamakan ide dan ekspresi, di mana setiap seniman memiliki hak penuh atas arah kuas dan pemikirannya.

“Lima belas perupa, 15 cara merdeka. Kemerdekaan di ruang rupa adalah soal hak untuk memilih sudut pandang. Yang membuat seni rupa terus hidup bukanlah satu gaya yang menang, melainkan keyakinan bahwa cipta yang luhur adalah cipta yang jamak,” tambahnya.

Keragaman tema dan aliran lukisan dalam pameran ini tercermin sangat jelas pada deretan karya yang dipajang. Pengunjung disuguhkan eksplorasi alam dan lanskap yang kuat, seperti lukisan Jalan Menuju Laut serta Galis Pulau Madura Di Musim Kemarau karya Hamid Nabhan, hingga narasi budaya lokal melalui lukisan Ketapang Sapi Madura karya Adji Djoyo dan Lompat Batu karya Widijawati.

Tidak ketinggalan, keindahan flora dan spiritualitas Nusantara turut diabadikan secara apik. Karya-karya floral dipamerkan oleh R Nagayomi (Flower of Life, Rose Flower Expression), Nunung Harso (Red Between Yellow), Murniati S (Beautiful Flowers, Merajut Kasih), dan Anny Djon (Hati Yang Selalu Wangi). Sementara itu, S. Pandji memikat perhatian lewat karya bercorak kebudayaan bernilai tinggi seperti Harmoni Nusantara dan Mahakarya Prajna Paramita.

Pesan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial juga digambarkan secara menyentuh. Dyah Katarina menghadirkan Kan Kujaga Hutanku, Nuniek Silalahi menyuguhkan Pohon Kehidupan dan Taman Di Hatiku, serta Q Sakti Laksono yang menampilkan semangat kebersamaan rakyat lewat Gotong Royong Panen Raya. Selain itu, terdapat eksplorasi emosi personal dan abstrak seperti karya Andri Setiawan (Abstraksi Gajah), Sari Bintia (Teh Hangat dan Dinginnya Malam), serta Maria Nofita (Persona).

Pameran ini ingin membuktikan bahwa hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, melainkan ruang publik yang mampu menyatukan simpul-simpul kebudayaan dan ruang berekspresi yang merdeka. Pihak penyelenggara mengundang seluruh masyarakat, pecinta seni, dan wisatawan untuk hadir dan menikmati sajian visual ini secara gratis di Lobi Wyndham Surabaya hingga penghujung tahun 2026.

(acs)