hariansurabaya.com | SURABAYA – FESyar hari kedua menampilkan, Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menampilkan Kajian Ustadz Hanan Attaki dengan judul “Mengaji Sambil Berwakaf” dengan mengusung tema ” Membangun Jejak Kebaikan melalui Wakaf Produktif untuk Peradaban yang Berkelanjutan”.
Bertempat di Ballroom lantai 4 Grand City Convention and Exhibition, acara tersebut diikuti ratusan peserta yang sebagian besar didominasi Gen Z dan millenial. Seperti yang kita ketahui, penggemar Ustadz Hanan Attaki memang sebagian besar adalah para golongan millenial dan Gen Z.
Pada awal acara, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur Rifki Ismal menyampaikan bahwa mengapa harus ada kajian tentang wakaf di FESyar.
“Karena FESyar Jawa salah satu yang kita fokuskan adalah pengembangan keuangan sosial Islam. Bank Indonesia memandang keuangan sosial Islam khususnya wakaf ini adalah salah satu sumber pendanaan ekonomi untuk mengangkat masyarakat lapis bawah.” jelas Rifki
Tambah Rifki, karena memang wakaf ini dikhususkan untuk kepentingan umat, untuk kemaslahatan umat, yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Jadi wakaf itu dalam konteks modern sekarang tidak hanya sebatas 3M. Yang dipahami oleh masyarakat itu adalah makam, madrasah dan masjid.
Dalam konteks modern sekarang wakaf itu sudah ada wakaf deposito, wakaf asuransi dan wakaf saham. Sekarang konsep wakaf itu sudah meluas dalam konteks komtemporer.
“Sekarang ada link wakaf berupa SUKUK, yang diterbitkan pemerintah tapi akadnya wakaf. Oleh karena itu Indonesia di tahun 2023 mendapat penghargaan Islamic Development Bank di Jeddah karena mengaplikasikan SUKUK tapi akadnya wakaf. Di Indonesia banyak inovasi-inovasi wakaf, makanya pemahaman wakaf betul-betul dipahami oleh semua lapisan masyarakat.” pungkas Rifki.
Selanjutnya, Ustadz Hanan Takki menyampaikan kajiannya dimulai dengan pemahaman satu kata LEGACY bisa memberikan makna tentang wakaf.
“Wawasan yang sangat penting bagi kita sebagai seorang muslim yaitu legacy. Saya tertarik sekali dengan judul LEGACY ini walaupun kemudian menjadi singkatan tapi kata legacy itu sendiri adalah kata paling bisa mewakili mindset tentang wakaf.”
Tambah Ustadz Hanan Takki, sedangkan inspirasi kenapa muncul kata LEGACY, salah satunya dari Hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam Riwayat Muslim yang mengatakan kalau anak cucu Adam wafat maka terputuslah semua amal dari dia kecuali 3 amal. Yang pertama adalah sodaqoh jariah atau sedekah yang terus mengalir kebaikannya. Yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat atau banyak orang mengambil manfaat darinya. Dan yang ketiga adalah anak soleh yang mendoakan orang tuanya.
Selanjutnya, Ustadz Hanan Attaki juga mencontohkan bahwa jaman dulu tidak hanya musabakoh tilawatil quran saja. Ada musabakoh amal sholih, musabakoh sedekah, musabakoh wakaf, musabakoh hafal Al Quran, musabakoh sholat tahajud, musabakoh sholat berjamaah di masjid. Jadi banyak macamnya.
“Wakaf tidak hanya berupa uang, mata uang kita. Tapi kita bisa berwakaf dengan berbagai macam cara. Bisa berwakaf terumbu karang, kita wakaf mangrove, kita wakaf sungai, kita wakaf sumber air atau mata air, kita wakaf pohon bambu. Itu semuanya wakaf. Selain tadi ada wakaf saham, asuransi dan lain-lainnya.” ujar Ustadz Hanan Attaki.
Sekarang dunia financial sangat berkembang luar biasa pesat, semua itu bisa menjadi salah satu varian wakaf.
“Dampaknya sangat penting dengan wakaf uang kita. Betapa Islam itu agama yang tetap relevan di jaman apapun. Kalau kelihatan Islam kurang relevan pasti karena kita tidak terlalu cerdas memaknai dalil-dalil.” pungkas Ustadz Hanan Attaki.(acs)













