Siswa SMP Al Falah Surabaya Sulap Ketapang Jadi Minyak Nabati Alternatif

Siswa SMP Al Falah Surabaya Sulap Ketapang Jadi Minyak Nabati Alternatif (foto : ist)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Di bawah rindang pohon ketapang yang kerap tumbuh di tepi jalan, bijinya sering berhenti sebagai sampah organik. Namun, bagi dua siswa SMP Al Falah Surabaya, biji yang hampir tak diperhatikan itu menyimpan peluang besar: menjadi sumber minyak nabati alternatif di tengah ketergantungan Indonesia pada minyak kelapa sawit.

Falia Khasnaulaya Rammadha dan Neysa Tania Husamadiha mengembangkan penelitian pengolahan biji ketapang (Terminalia catappa) menjadi minyak melalui proses ekstraksi dan destilasi. Karya ilmiah mereka masuk dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 sub-bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), ajang riset pelajar yang mengusung tema “Muda Berinovasi, Indonesia Berprestasi”.

Keprihatinan yang Menjadi Ide Riset

Ide penelitian ini berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: tingginya penggunaan minyak sawit di Indonesia serta isu pembukaan lahan kelapa sawit yang sering dikaitkan dengan tekanan terhadap hutan.

“Latar belakang penelitian ini karena kami melihat penggunaan sawit di Indonesia cukup banyak.” ujar Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan dan Humas SMP Al Falah Surabaya, Devi Aryani, M.Psi., Sabtu (17/10/2026).

Menurut Devi, biji ketapang dipilih karena melimpah, murah, dan selama ini kurang dimanfaatkan. “Mayoritas masyarakat Indonesia belum tahu manfaat biji ketapang dan banyak yang terbuang sia-sia,” ujarnya.

Potensi tersebut juga sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya. Kajian akademik menyebut biji ketapang memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri minyak nabati.

Dari Biji Lokal ke Tabung Minyak

Proses riset dilakukan di laboratorium sekolah bersama pembimbing, Ustazah Saniya dan Ustazah Palupi Indriyati. Siswi kelas VIII, Rassifa Az Zahra Pramudia, menjelaskan bahwa tim mengumpulkan biji ketapang dari petani lokal sebelum diolah.

“Pertama, kami mengumpulkan biji ketapang dari petani-petani lokal. Lalu biji ketapang itu digerus sampai sangat halus,” kata Rassifa. “Setelah itu, dimasukkan ke dalam kertas, diikat, lalu dimasukkan ke dalam alat destilasinya.”

Dalam penelitian ini, biji yang telah dihaluskan diekstraksi menggunakan Soxhlet Apparatus dengan bantuan pelarut alkohol. Campuran kemudian dipanaskan melalui proses destilasi untuk memisahkan alkohol dan minyak, hingga dihasilkan cairan minyak di tabung penampung.

Metode ekstraksi Soxhlet memang lazim digunakan dalam penelitian minyak biji ketapang, termasuk untuk menarik kandungan minyak dari bahan baku yang telah dikeringkan dan dihaluskan.

Jalan menuju hasil itu tidak mulus. Rassifa mengakui tim sempat menghadapi kendala teknis, terutama pada penyempurnaan pengambilan sampel. Namun, pendampingan guru pembimbing membuat proses tersebut dapat diselesaikan.

“Awalnya pasti kesulitan, tapi dengan bimbingan dari Ustazah Saniya dan Ustazah Palupi, semuanya bisa terlewati,” ungkapnya.

Meski berhasil menghasilkan minyak dari biji ketapang, penelitian ini masih berada pada tahap sampel laboratorium. Jumlah minyak yang dihasilkan masih terbatas, sehingga belum diuji untuk menggoreng makanan secara langsung.

Pihak sekolah menegaskan bahwa riset ini akan terus dikembangkan, terutama untuk menguji kualitas, keamanan, dan potensi pemanfaatannya secara lebih luas. “Dengan biji ketapang ini, diharapkan kita bisa memberdayakan lagi dan memperbanyak, kalau bisa, supaya nanti bisa menjadi pengganti dari minyak sawit itu sendiri,” kata Devi.

Langkah lanjutan itu penting karena sebuah inovasi tidak cukup berhenti pada kemampuan menghasilkan minyak. Penelitian berikutnya perlu menguji titik asap, rasa, keamanan pangan, stabilitas penyimpanan, hingga skala produksi agar minyak ketapang benar-benar layak menjadi alternatif komersial.

Penemuan tersebut dipamerkan dalam Open House Yayasan Pendidikan Al Falah Surabaya 2026 bertema “Where Knowledge and Faith Shape WINNERS”, Sabtu (17/10/2026). (ist)