Kirab Budaya Mewarnai Acara Puncak Pagelaran Suroan Di Temuguruh Banyuwangi

446 views

Hari Minggu (16/9/2018) merupakan hari terakhir perhelatan pagelaran suroan di Temuguruh Banyuwangi. Sebelumnya serangkaian acara digelar dari tanggal 12-14 September 2018 berupa jamasan pusaka, slametan, ruwatan, pentas jaranan dan reog, serta pagelaran wayang kulit. Disusul puncak acara yang dibuka hari Sabtu (15/9/2018).

Ada tiga agenda penting yang dilaksanakan sebelum Pagelaran Suroan di Temuguruh resmi ditutup, Minggu 16 September 2018. Dimulai dari pembuatan jenang suro masal, kirab budaya, dan terakhir barikan kubro.

Menurut Riska, warga Temuguruh, pelaksanaan pembuatan jenang suro masal dimulai sekitar pukul 9.00. Menghabiskan kurang lebih 35 kg beras yang diolah dalam lima wajan besar. Sore harinya, selepas ashar, dilakukan kirab budaya yang melibatkan drum band MI Salafiyah, perguruan PAMU (Purwo Ayu Mardi Utomo), tamu mancanegara, Hidora (Hiduplah Indonesia Raya), pemerintah desa setempat, serta kesenian terbang dari dusun Cermean dan Alas Kobong. Sementara Ibu-ibu PKK yang termasuk dalam barisan tersebut bertugas membawa jenang suro sepanjang acara kirab dilangsungkan. Usai kirab barulah acara Barikan Kubro, berupa makan bersama dan bancakan di sepanjang jalan desa dilaksanakan.

Yang menarik dalam acara ini adalah tampilnya drumband lansia dari Dusun Lalangan, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu. Mereka tampil atraktif mengenakan seragam warna ungu, memainkan lagu seperti Semar Mendem dan Ulan Andung-Andung. Tak pelak perhatian penonton pun tersedot dengan kehadiran drumband yang anggotanya adalah petani dan ibu rumah tangga. Malam harinya masih ada sederetan penampil dari manca dan nusantara yang akan unjuk gigi di depan masyarakat Temuguruh.

Satu hal yang tak bisa diabaikan, semua kegiatan ini dipersiapkan secara swadaya dan mandiri oleh Pemerintah Desa Temuguruh, BUMDes Temuguruh, bergotong-royong bersama segenap warga Desa Temuguruh, yang didukung oleh pergerakan Hidora (Hiduplah Indonesia Raya). [Ay]