Safari Ramadan di Bumi Wali – Tuban, Gubernur Khofifah Shalat Tarawih di Masjid Agung Tuban, Masjid Berkubah Pertama di Tanah Jawa

58 views

hariansurabaya.com – KAB. TUBAN – Safari Ramadhan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Bumi Wali, Kabupaten Tuban, Kamis (30/3). Dalam safari ramadhan tersebut, Gubernur Khofifah melanjutkan jelajah masjid legendaris dengan mengikuti shalat tarawih di Masjid Agung Tuban dilanjutkan berziarah ke makam Sunan Bonang.

Usai melaksanakan shalat tarawih di Masjid Agung Tuban, Gubernur Khofifah juga berkesempatan berbagi beras kepada jama’ah seperti biasanya serta berkeliling sembari melihat arsitektur bangunan masjid tersebut.

Masjid Agung Tuban dibangun dengan menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan tiang penyangga, sehingga menghasilkan pola ruang dengan kolom-kolom. Pola ini seakan terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, Spanyol. Menurut GF Pijper, cerita yang berkembang menyebut rujukan rancangan masjid ini adalah Hagia Sofia lstanbul. Selain berkubah, Masjid Agung Tuban juga salah satu masjid terawal yang miliki arcade.

Gaya arsitektur khas Nusantara dapat ditemui pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Masjid tersebut didirikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo atau yang dikenal dengan Syeh Abdurrahman, Bupati Tuban ke-7. Kapan pendirian masjid tersebut tidak tercatat secara pasti, namun diperkirakan pada abad ke-15 karena Adipati Raden Ario Tedjo berkuasa sekitar 1401-1419.

“Masjid ini adalah bagian dari bukti kejayaan Islam pada zaman kerajaan majapahit,” kata Gubernur Khofifah.

Masjid yang merupakan salah satu masjid pertama di Jawa yang memakai kubah. Masjid ini sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1894, yakni
pada masa pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-35 Tuban).

Saat itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan dalam prasasti yang ada di depan masjid ini yang berbunyi :

“Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus”

Ziarah ke Raden Makhdum Ibrahim Sunan Bonang

Di Bulan Ramadhan, komplek makam Sunan Bonang yang berlokasi tak jauh dari Alun-Alun dan Masjid Agung Tuban ini tak pernah sepi peziarah. Termasuk para jamaah salat tarawih yang selalu memenuhi Masjid Agung Tuban.

Menurut Khofifah, ramainya peziarah yang berdatangan tak lepas dari kuatnya catatan sejarah dan kebesaran nama Raden Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Sebagai salah satu ulama Wali Songo, Sunan Bonang adalah sosok penebar syiar Islam di Jawa pada abad ke-14 Masehi. Lahir pada 1465 M di Surabaya, pendidikan Islam diperolehnya pertama kali dari Sang Ayah yakni Sunan Ampel di pesantren Ampeldenta. Sejak kecil, Sunan Ampel sudah mempersiapkan putranya itu sebagai penerus untuk mensyiarkan ajaran Islam di bumi Nusantara.

Sunan Bonang juga dikenal sebagai seniman yang berdakwah dengan menggunakan sejumlah perangkat seni, termasuk gamelan, juga karya sastra. Konon, Raden Makhdum Ibrahim adalah penemu salah satu jenis gamelan dengan tonjolan di bagian tengahnya atau yang kerap disebut bonang. Dari situlah julukan Sunan Bonang disematkan kepada Raden Makdum Ibrahim.

Sunan Bonang berdakwah dengan menggunakan musik yang dialunkan lewat gamelan buatannya. Hal ini bukan tanpa alasan. Beliau memilih untuk berdakwah dengan musik supaya mudah diterima oleh masyarakat Jawa pada masa itu tanpa adanya paksaan.

Dari penggalan sejarah tersebut, Gubernur Khofifah mengakui bijaknya praktik dakwah kultural yang dilakukan Sunan Bonang. “Berdakwah tanpa paksaan ini sangat bijak. Kreativitas dalam mengemas ajaran dakwah Islam dalam sebuah kesenian tradisional yang indah dan dekat dengan masyarakat patut kita jadikan teladan,” katanya

Selain itu, Gubernur Khofifah juga menyebutkan bahwa Sunan Bonang adalah simbol harmonisasi antar umat beragama. Hal tersebut tampak dari adanya sejumlah tempat ibadah di sekitar alun-alun Tuban yang hingga kini masih berdiri tegak dan digunakan untuk beribadah. Bangunan masjid, klenteng, pura dan gereja yang membentuk seperti kompleks tersebut telah dibangun sejak jaman Sunan Bonang.

“Ajaran beliau dalam merajut kerukunan dan perdamaian antar umat beragama ini masih relevan hingga sekarang. Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang. Meski berbeda-beda, tapi tetap satu,” jelasnya

Tak hanya itu, Bukti toleransi dan keberagaman di Tuban juga tampak dalam Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran Sang Wali. Pada prasasti setinggi 180 cm tersebut terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid mewakili agama Islam, candi mewakili agama Hindu, klenteng mewakili Tridharma (Budha, Tao dan Konghucu) serta wihara mewakili agama Budha. Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

“Melalui prasasti itulah kita bisa memaknai sebagai adanya ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat antar umat beragama terpecah-belah. Melalui sikap toleransi dalam perbedaan agama itulah kenapa Islam dapat menyebar secara luas,” ungkapnya.

Bangunan makam Sunan Bonang pun cukup unik. Karena para untuk masuk cungkup, peziarah harus menundukan badan. Bangunan cungkup yang sengaja dibuat rendah yang melambangkan penghormatan sebagai salah satu ulama kesohor di zamannya dan setelahnya.  Sementara wujud gapura paduraksa yang membagi halaman cungkup makam menjadi tiga bagian, yang melambangkan kesopanan dalam bertamu dengan mengucapkan salam maksimal tiga kali.(ac)

*Moh. Ali Kuncoro*