Empat Siswa Lotus Art Courses Tampil di National Art Exhibition “Cultura PERSIB” di Grey Art Gallery Bandung

Empat Siswa Lotus Art Courses Tampil di National Art Exhibition “Cultura PERSIB” di Grey Art Gallery Bandung (foto : ist)

hariansurabaya.com | BANDUNG — Empat siswa Lotus Art Courses berhasil mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya mereka dalam National Art Exhibition “Cultura PERSIB” yang digelar di Grey Art Gallery, Jalan Braga, Bandung.

Keempat siswa tersebut adalah Difaniska Lasmana, Raynold Alexander S, Aisyah Azkadina A.A, dan N Adinata Manyakori. Keikutsertaan mereka menjadi sebuah pencapaian membanggakan sekaligus pengalaman berharga bagi para siswa muda Lotus Art Courses untuk memperkenalkan karya seni mereka di ruang pamer profesional.

Pameran Cultura PERSIB merupakan kolaborasi Persib bersama Grey Art Gallery yang mengangkat perjalanan, identitas, sejarah, serta warisan Persib sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bandung. Pameran ini menghadirkan sekitar 95 karya dan objek, mulai dari seni rupa, instalasi visual, mural, arsip sejarah, memorabilia, jersey bersejarah, hingga ruang tematik yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan Persib lintas generasi.

Bagi keempat siswa Lotus Art Courses, keterlibatan dalam pameran tersebut menjadi kesempatan untuk belajar bahwa karya seni tidak hanya dibuat untuk kepentingan pembelajaran di kelas, tetapi juga dapat hadir dan diapresiasi di ruang publik serta lingkungan seni yang lebih luas.

Keikutsertaan mereka juga memperlihatkan bagaimana pendidikan seni sejak usia dini dapat membuka ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, keberanian berkarya, sekaligus membangun pengalaman dalam dunia seni rupa.

Founder dan Owner Lotus Art Courses, Putu Mahendra, menyampaikan rasa bangga atas kesempatan yang diperoleh keempat siswanya.

«“Saya sangat bangga melihat Difaniska, Raynold, Aisyah, dan Adinata bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari pameran Cultura PERSIB. Bagi saya, ini bukan hanya tentang karya mereka yang dipamerkan, tetapi tentang proses dan keberanian mereka untuk membawa karya dari ruang belajar menuju ruang seni yang lebih luas.”»

Menurut Putu, pengalaman mengikuti pameran nasional seperti ini memiliki nilai penting bagi perkembangan seorang siswa. Anak-anak tidak hanya belajar mengenai teknik menggambar dan melukis, tetapi juga belajar memahami bahwa sebuah karya dapat menjadi media untuk menyampaikan gagasan, cerita, identitas, dan emosi.

«“Kami di Lotus Art Courses selalu berusaha memberikan pengalaman yang lebih luas kepada siswa. Mereka perlu merasakan bagaimana karya mereka berada di ruang pamer, berdampingan dengan karya seniman dan kreator lainnya. Dari pengalaman seperti ini, mereka belajar menghargai karya sendiri, menghargai karya orang lain, dan yang paling penting, semakin percaya diri untuk terus berkarya,” ujarnya.»

Putu juga berharap keterlibatan keempat siswa dalam Cultura PERSIB dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswa Lotus Art Courses lainnya.

«“Saya berharap pencapaian ini menjadi inspirasi bagi siswa-siswa Lotus Art Courses lainnya. Tidak ada batasan bahwa karya anak-anak hanya bisa tampil di lingkungan sekolah atau tempat kursus. Dengan proses yang konsisten, kemauan belajar, dan kesempatan yang tepat, karya mereka juga bisa hadir di ruang-ruang seni yang lebih besar.”»

Sementara itu, Cultura PERSIB sendiri menjadi bagian dari momentum penting perjalanan klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut. Pameran ini hadir setelah Persib mencatat sejarah dengan meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi Indonesia selama tiga musim berturut-turut, yakni musim 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026.

Melalui pendekatan seni dan budaya, Cultura PERSIB tidak hanya menghadirkan sepak bola sebagai olahraga, tetapi juga melihat Persib sebagai bagian dari identitas budaya, memori kolektif, kreativitas, dan kehidupan sosial masyarakat Bandung.

Kehadiran empat siswa Lotus Art Courses di dalam pameran tersebut pun menjadi catatan tersendiri. Di tengah karya-karya yang merepresentasikan sejarah Persib, kultur Bobotoh, dan identitas Kota Bandung, karya para siswa muda tersebut turut menjadi bukti bahwa generasi anak-anak juga memiliki ruang untuk ikut menginterpretasikan budaya melalui bahasa seni.

Bagi Lotus Art Courses, pencapaian ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus memberikan pengalaman berkesenian yang nyata kepada para siswa. Tidak sekadar mengajarkan teknik, tetapi juga mendorong anak-anak untuk berani berkarya, berani tampil, dan memiliki pengalaman langsung dalam ekosistem seni.

Empat nama yaitu Difaniska Lasmana, Raynold Alexander S, Aisyah Azkadina A.A, dan N Adinata Manyakori kini menjadi bagian dari perjalanan tersebut, membawa karya dan semangat generasi muda Lotus Art Courses ke salah satu ruang seni yang tengah merayakan sejarah dan budaya PERSIB. (acs)