
hariansurabaya.com | SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menggear acara tahunan Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 (FESyar 2026) yang dibuka dengan menghadirkan Business Coaching Pembiayaan pada Jumat (25/09/26) di Grand City Surabaya.
Mengusung tema “Sinergi Peningkatan Pembiayaan Syariah untuk Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Regional Jawa”, gelaran ini menghadirkan tiga narasumber. Yaitu Analis Divisi PPPUJK Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Timur (OJK Jatim) – Indrawan Nugroho Utomo, Area Manager PT Bank Syariah Indonesia Tbk Surabaya Kota – Ogi Yogaswara, dan Owner Galeri Batik Jokotole Collection – Dr Uswatun Hasanah SE MSc.
Membuka acara, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Muchammad Barik Bathaluddin mengatakan bahwa FESyar 2026 atau ke-8 ini mendorong literasi, inklusi, serta penguatan ekosistem di masyarakat regional Jawa. Sesuai temanya Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mendukung program Asta Cita dari pemerintah untuk mendorong kemandirian bangsa melalui salah satunya ekonomi syariah.
“Pelaksanaan FESyar 2026 ini ada tiga pilar, yakni ekosistem rantai nilai halal yang terisntegrasi dan berdaya saing, pembiayaan syariah yang maksimal, serta literasi dan inklusi keuangan syariah yang luas. Bank Indonesia mengajak peran ekonomi syariah dalam mendukung ekonomi nasional.” ujar Barik.
Barik juga menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, perekonomian indonesia dan Jawa masih bisa tumbuh dan bertahan dengan tingkat inflasi yang terjaga. Sejalan dengan itu, kinerja sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional juga mampu menjaga tren pemulihan yang positif.
Berdasarkan kajian Ekonomi Keuangan Syariah Indonesia 2025, kinerja ekonomi syariah tercermin dari sektor unggulannya, halal value chain yang tumbuh 6,21 meningkat dari 4,0 pada 2024. Pertumbuhan sektor unggulan halal value chain didorong sektor pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, dan kinerja fesyen muslim yang positif.
Sejalan dengan sektor riil, kinerja keuangan syariah juga tetap tumbuh positif mencerminkan keberlanjutan intermediasi di tengah ketidakpastian global ini. Selain itu, pembiayaan pada sektor pertanian, industri mamin halal, pariwisata mencatatkan pertumbuhan tinggi dengan profil risiko yang relatif terjaga. Pembiayaan sektor unggulan halal value chain tetap bersignifikan dalam mendorong kekuatan ekonomi, ekosistem halal yang berkelanjutan dan inklusif.
Berbagai dukungan juga dilakukan melalui kebijakan ekonomi dan syariah, BI bersinergi dengan berbagai pihak seperti OJK, perbankan, termasuk melalui penguatan operasi hotel syariah, kebijakan makroprudensial yang fokus pada pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah. Sinergi antara ekonomi dan keuangan syariah juga dilakukan, kemudian pengembangan sektor unggulan halal, sektor keuangan sosial syariah, serta penyelenggaran FESyar di berbagai daerah, dan Indonesia syariah festival yang berskala internasional.
Di sisi lain, Analis Divisi PPPUJK Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Timur (PJK Jatim) Indrawan Nugroho Utomo mengatakan, peningkatan pembiayaan syariah tidak semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah penyaluran pembiayaan.
Yang paing penting adalah memastikan pembiayaan tersebut mampu membantu UMKM mengembangkan usaha dan naik kelas. Untuk mendukung hal tersebut, OJK memiliki berbagai forum yang mempertemukan pelaku UMKM dengan lembaga jasa keuangan.
“Kami juga memiliki forum temu bisnis. Sebenarnya mirip dengan kegiatan hari ini, yaitu Business Coaching Pembiayaan untuk UMKM. Melalui forum ini, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan sekaligus membuka akses dengan lembaga jasa keuangan yang memiliki produk pembiayaan sesuai kebutuhan usaha.” ujar Indrawan.
Tambah Indrawan, “Di antara kami saling mendukung. Bank Indonesia memiliki program seperti kegiatan hari ini, sementara di OJK juga ada forum temu bisnis. Intinya, kami mempertemukan pengusaha atau pelaku UMKM dengan lembaga jasa keuangan, khususnya yang memiliki pembiayaan syariah.”
Indrawan berharap sinergi antara OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan syariah, dan pelaku UMKM dapat terus diperkuat sehingga pembiayaan syariah tidak hanya tumbuh dari sisi penyaluran, tetapi juga memberikan dampak terhadap pengembangan usaha dan perekonomian daerah.
Dengan adanya acara tahunan Fesyar Regional Jawa 2026 dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat buat para UKM/UMKM, para pelaku usaha dan peserta diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan formal dan layanan digital demi mendorong kemandirian ekonomi daerah. (acs)













