Kisah Anak Pedagang Jadi Dokter, ’Jimat’ Sang Ibu Antarkan Benta Raih Gelar Dokter

Benta Malika El Ghameela dokter dari Madura (foto : ist)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Di setiap ujian saat menempuh Pendidikan maupun Profesi Dokter yang dijalani Benta Malika El Ghameela, ada satu ritual yang selalu dilakukan ibunya dari rumah di Madura. Sang ibu memberinya “jimat”.

Sebelum masuk ruang ujian, Benta akan mengirim pesan singkat kepada sang ibu: nama penguji, jam ujian, dan ruang tempat ia diuji. Setelah itu, ibunya mulai membaca Yasin hingga putrinya selesai.

“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berhenti,” kenang Benta sambil menahan haru. Panjatan doa dari sang ibu itulah yang disebut Benta sebagai “jimat”.

Kini, perjuangan panjang itu berujung manis. Benta resmi menyandang gelar dokter. Kamis (21/4) siang tadi ia diambil sumpahnya bersama 15 dokter baru lainnya di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Benta menjadi dokter pertama di keluarga besar yang seluruhnya berlatar belakang pedagang.

Sejak kecil, Benta sebenarnya sudah bercita-cita menjadi dokter. Keinginan itu tumbuh ketika melihat kakeknya harus menjalani cuci darah rutin akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal.

“Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi dokter, mungkin saya bisa merawat keluarga saya sendiri,” tuturnya.

Saat duduk di bangku SMA di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, cita-cita itu semakin kuat. Dalam setiap surat ulang tahun untuk orang tuanya, ia selalu menuliskan nama pengirim dengan kalimat yang sama: “Dari putri cantik kalian, dokter Benta.”

Kalimat sederhana itu ternyata diam-diam disimpan oleh kedua orang tuanya sebagai harapan. Namun bagi keluarga pedagang fotokopi dan percetakan kecil, menyekolahkan anak di fakultas kedokteran bukan perkara ringan.

“Orang tua saya tidak pernah bilang kalau mereka kesulitan. Mereka cuma bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan,’” ujarnya.

Cobaan terbesar datang saat pandemi Covid-19. Usaha fotokopi keluarganya hampir berhenti total karena sekolah dan perkantoran tutup. Tidak ada lagi pelanggan. Di saat banyak mahasiswa mulai khawatir soal biaya pendidikan, Benta bahkan sempat takut harus berhenti kuliah.

Tetapi kedua orang tuanya memilih bertahan. Mereka banting setir berjualan pakaian demi memastikan anak pertamanya tetap bisa melanjutkan pendidikan dokter. “Di situ saya benar-benar melihat bagaimana orang tua saya berjuang agar saya tetap bertahan di kedokteran,” kata anak pertama dari ketiga bersaudara ini.

Di kampus, Benta juga harus menghadapi tantangan lain: rasa minder. Karena ia bukan anak dokter. Tidak datang ke kampus dengan mobil mewah. Telepon genggamnya biasa saja. Bahkan ia masih sering kuliah dengan sepeda motor.

“Banyak yang bilang anak kedokteran harus bawa mobil. Saya sempat minder. Tapi saya berpikir, saya harus punya nilai dari diri saya sendiri,” ujarnya.

Karena itu, Benta aktif berorganisasi sejak awal kuliah. Ia bergabung dalam organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional, membangun relasi, dan terus membuktikan dirinya lewat kerja keras.

Saat menjalani koas, tekanan mental juga tidak sedikit. Jadwal panjang, tugas menumpuk, hingga dimarahi pasien maupun tenaga kesehatan menjadi bagian dari keseharian.

Namun di tengah kelelahan itu, ada satu momen yang selalu menguatkannya. Suatu hari, seorang pasien yang sempat dirawat intensif akhirnya membaik dan diperbolehkan pulang. Keluarga pasien menghampirinya. “Dok, terima kasih sudah sering nengok Bapak,” kata keluarga pasien waktu itu.

Bagi Benta, ucapan sederhana tersebut terasa sangat berarti. “Saya merasa ternyata ilmu saya berguna,” katanya.

Kini, setelah resmi lulus dokter, Benta ingin melanjutkan mimpi berikutnya: menjadi dokter spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura yang masih membutuhkan banyak tenaga spesialis.

Dalam sumpah yang diucapkannya untuk meraih gelar dokter, ada kisah tentang anak pedagang kecil yang tidak menyerah pada keadaan. Ada perjuangan orang tua yang rela memulai usaha dari nol demi pendidikan anaknya. Dan ada doa seorang ibu yang tak pernah putus di setiap ujian.

“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” ujar Benta gadi kelahiran Bangkalan, 9 April 2000 ini. (acs)