Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 Resmi Dibuka di Grand City Convex Surabaya

hariansurabaya.com | SURABAYA Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran ini kembali menjadi ajang terbesar bagi industri percetakan dan grafika di Jawa Timur, sekaligus mempertemukan pelaku industri, UMKM, akademisi, hingga investor untuk mendorong inovasi dan transformasi teknologi.

Pembukaan acara dihadiri oleh berbagai tokoh nasional dan daerah, di antaranya Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi RI Dr. Ir. Herbert Johan Siagian, M.Sc. yang mewakili Menteri Koperasi RI, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin yang mewakili Gubernur Jawa Timur, perwakilan Kementerian Perindustrian, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Ahmad Mughira Nurhani, Ketua DPD PPGI Jawa Timur Iwan Dhamar Suprihartono, Ketua Dewan Pertimbangan PPGI Jimmy Junianto, Ketua Umum Perhimpunan Industri Tinta Cetak Indonesia (PITCI) Daniel Deni, Ketua Umum Komunitas Printing Indonesia (KOPI) Usman Batubara, serta CEO Krista Exhibitions Daud Salim.

Dalam sambutannya, Daud Salim mengatakan Surabaya Printing Expo telah menjadi agenda tahunan yang konsisten digelar selama hampir dua dekade. Menurutnya, pameran ini berkembang seiring pertumbuhan industri di Jawa Timur dan kini menjadi salah satu pameran teknologi percetakan terbesar dan terlengkap di kawasan Indonesia Timur.

“Surabaya memiliki ekosistem industri yang sangat kuat, mulai dari makanan dan minuman, kemasan, kosmetik, farmasi, tekstil, pertanian, perikanan hingga ekonomi kreatif. Seluruh sektor tersebut membutuhkan dukungan teknologi percetakan yang semakin modern, efisien dan berkualitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, SPE 2026 diikuti sekitar 150 perusahaan, termasuk 10 pelaku UMKM, dengan target lebih dari 15.000 pengunjung. Selain menampilkan teknologi dan mesin percetakan terbaru, pameran juga menghadirkan berbagai seminar dan workshop mengenai transformasi digital, branding, kemasan produk, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga strategi UMKM naik kelas melalui industri kreatif.

Ketua DPD PPGI Jawa Timur, Iwan Dhamar Suprihartono, menegaskan bahwa industri grafika tidak sedang mengalami kemunduran, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi.

“Kalau dulu identik dengan mesin cetak konvensional, sekarang industri grafika berkembang menuju teknologi digital yang lebih cerdas dan efisien. Pameran ini menjadi bukti bahwa industri grafika terus berinovasi dan tetap memiliki prospek yang besar,” katanya.

Menurutnya, SPE menjadi daya tarik bagi pelaku industri dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh, Kalimantan, Bali, hingga berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menggelar seminar, pelatihan, dan temu bisnis guna menciptakan wirausaha baru di sektor grafika.

Sementara itu, Ketua Umum PPGI Ahmad Mughira Nurhani menyampaikan bahwa perkembangan industri grafika nasional harus diarahkan pada transformasi teknologi, efisiensi operasional, dan peningkatan daya saing.

Ia menilai Surabaya Printing Expo bukan sekadar pameran mesin, tetapi menjadi ruang kolaborasi, pembelajaran, dan solusi bagi pelaku usaha untuk memperoleh teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas, menghemat energi, mengurangi limbah, serta menghasilkan proses produksi yang lebih efisien.

Ahmad juga menyoroti besarnya potensi industri grafika Indonesia, khususnya pada sektor kemasan (packaging), labeling, creative printing, dan kebutuhan industri e-commerce yang terus meningkat.

“Bagi pelaku UMKM grafika, ini saat yang tepat untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi, melakukan diversifikasi produk, serta memanfaatkan teknologi otomatisasi dan smart packaging,” ujarnya.

Mewakili Gubernur Jawa Timur, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan Surabaya Printing Expo yang telah berlangsung selama 19 kali.

Ia memaparkan bahwa Jawa Timur saat ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 31 persen.

Menurut Sherlita, industri percetakan memiliki posisi strategis sebagai bagian dari industri pengolahan. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) industri percetakan Jawa Timur pada 2025 mencapai sekitar Rp27,64 triliun dengan pertumbuhan kumulatif lebih dari 11 persen dalam tiga tahun terakhir.

Ia juga mengingatkan bahwa transformasi digital harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri, serta perhatian terhadap perlindungan hak cipta dan data pribadi.

“Kami berharap perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Surabaya Printing Expo dapat membuka lebih banyak kesempatan magang bagi siswa SMK maupun mahasiswa agar mereka memperoleh pengalaman langsung menggunakan teknologi industri terbaru,” katanya.

Melalui penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026, pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri berharap sektor grafika nasional semakin mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital, memperkuat daya saing industri Indonesia, sekaligus menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru di era ekonomi kreatif.(acs)