Selamat jalan Bingky Irawan, tokoh reformis dan nasionalis Tionghoa Indonesia

15 views
Bingky Irawan
Penghormatan terakhir dari rekan dan sahabat di Adi Jasa (foto : sun)

hariansurabaya.com | Selamat jalan Bingky Irawan, tokoh reformis dan nasionalis Tionghoa Indonesia

Surabaya – Di saat warga kota Surabaya bergembira merayakan ulang tahun ke 728 (31/5) kota tercinta ini, masyarakat Tionghoa Surabaya kehilangan tokoh seniornya. Seorang pria bernama Poo Soen Bing atau yang biasa dipanggil Bingky Irawan, telah wafat di rumah sakit Delta Surya Sidoarjo pada pukul 3 pagi karena sakit yang dideritanya. Saat ini jenasah disemayamkan di Adijasa Ruang 28 dan akan dimakamkan di Sentong Malang hari Jumat (4/6).

Mendiang Poo Soen Bing meninggal dalam usia 69 tahun dengan meninggalkan seorang istri bernama Susilowati dan empat orang anak yaitu Puspita Sari, Agus Purwanto, Agus Cahyono dan Agus Kurniawan.

Semasa hidupnya, mendiang yang akrab di panggil Bingky oleh koleganya itu adalah sosok pejuang hak asasi Tionghoa dan Konghucu yang pernah mengalami diskriminasi di jaman orde baru. Ketika menjelang jatuhnya orde baru, kasus diskriminasi agama mencuat di permukaan saat Budi Wijaya menikah dengan Lanny Guito di Lithang Boen Bio Kapasan. Saat mereka akan mendaftarkan secara resmi pernikahannya di catatan sipil, tapi ditolak oleh petugas dengan alasan di Indonesia hanya diakui 5 agama. Dan Konghucu adalah salah satu agama yang tidak diakui saat itu.

Bingky Irawan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pengurus Klenteng Boen Bio sejak 1991-2006 sekaligus Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) pada tahun 1991-2006 dengan gagah berani membela kedua umatnya tersebut. Kemudian mengajukan banding ke pengadilan tata usaha negara. Karena mendiang sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maka Bingky meminta beliau supaya bersedia menjadi saksi ahli untuk membantunya memperjuangkan diskriminasi tersebut. Dan akhirnya membuahkan hasil. Pernikahan Budi dan Lanny tercatat di catatan sipil beragama Konghucu.

Bingky Irawan
Bingki Irawan jongkok berbaju biru di sebelah kanan Gus Dur (foto : sun)

Saat rezim orde baru berjaya, semua hal yang berbau tionghoa tidak boleh dipertontonkan di depan umum. Seperti atraksi barongsai, pertunjukan potehi hingga sembahyang pun tersembunyi dan tertutup. Bahkan buku sembahyang berbahasa mandarin sampai kegiatan sekolah tionghoa pun tidak diperbolehkan dibuka untuk umum.

“Mendiang Bingky orang yang memiliki kepribadian kuat, memegang teguh prinsip dan keyakinannya yang tak dapat dihalangi oleh siapapun juga” kenang Lim Tiong Yang, sahabat karibnya.

Bahkan Gatot Seger Santoso salah satu aktifis tionghoa pun mengenang mendiang Bingky sebagai sosok yang setia kawan, berani membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan, berjiwa sosial tinggi serta memegang teguh 8 kebajikan sebagai prinsip hidupnya.

Prestasi lain yang menjadi catatan emas adalah ketika salah satu sahabat Bingky yaitu almarhum Gus Dur menjadi presiden Indonesia ke 4 berhasil menerbitkan keputusan presiden nomer 6/2000 yang mengatur penyelenggaraan kegiatan, adat budaya, seni dan religi Tionghoa. Lalu pada 2001 Gus Dur menetapkan Imlek sebagai libur nasional, bahkan beliau hadir saat perayaan imlek di Jakarta 2001. Kemudian pada 2002 presiden Megawati meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Bingky Irawan
Penyerahan pataka dari Xs. Budi ST ke Ws. Handoko (Ketua MAKIN Boen Bio) (foto : sun)

Sejak saat itulah semua seni budaya dan adat istiadat tionghoa dapat dipertontonkan di depan publik. Hingga saat ini warga tionghoa menghirup udara bebas. Tidak ada sekat dan diskriminasi, berkat jasa Gus Dur dan Bingky Irawan.

Sejak tahun 2006 sampai menghembuskan nafas terakhir, Bingky Irawan menjabat sebagai Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) yang berbasis di Jakarta. Juga menjadi anggota kehormatan Forum Lintas Agama di Surabaya Jawa Timur sejak 1991 hingga tutup usia kemarin.

Selamat jalan sahabat.

Semoga kebahagiaan yang kekal di surga untuk kedua sahabat sejati yaitu Bingky Irawan bapak reformasi tionghoa indonesia dan Gus dDr bapak pluralisme Indonesia! (sun)