Dibalik nama Urip, yang membawa keberuntungan dalam hidup Iwan

19 views
Aston Inn Jemursari Surabaya
Dibalik nama Urip, yang membawa keberuntungan dalam hidup Iwan (foto : ist)

SURABAYA, hariansurabaya.com | Nama lengkapnya Urip Catur Setiawan Tohir, lahir di Purwokerto tepatnya 17 Mei 1984. Namanya memang cukup panjang. Tampaknya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Seperti nama-nama lain pada umumnya Tapi siapa sangka, ternyata di balik nama yang panjang itu terdapat kisah yang cukup dramatis dan istimewa.

Seperti orang tua umumnya, kalau memberi nama anaknya pasti ada arti dan tujuan. Urip dalam Bahasa Jawa artinya hidup. Catur berarti anak ke 4. Setiawan nama pilihan orang tua yang akhirnya dia dipanggil Iwan. Tohir sendiri adalah nama kakek yang sekarang menjadi nama keluarga.

Dia diberi nama Urip, membawa kisah yang cukup istimewa dan akan terus melekat serta diingat selama hidupnya. Diawali ketika ibunya Iwan dalam kondisi mengandung tua dan sudah waktunya melahirkan, datang ke bidan untuk cek up rutin. Tapi bidan tersebut mengabarkan kalau kondisi bayi dalam kandungan sudah meninggal. Karena mereka tinggal di Alor NTT, bidan tersebut memeriksa kandungan ibunya secara manual hanya dengan menggunakan tangan. Sedangkan untuk memastikan dan mengeluarkan bayi tersebut harus lewat cesar. Akhrinya ibunya yang tengah mengandung tua dengan bayi dalam kandungan yang sudah dinyatakan meninggal itu, dibawa ke Surabaya dan memang tetap harus dilakukan tindakan cesar.

Karena keluarga merasa nanggung, akhirnya dilanjutkan perjalanan ke Purwokerto supaya sekalian bisa mengubur bayinya di kampung halaman orang tua. Tapi setelah bayi dikeluarkan di Purwokerto, ada bidan yang merasa kalau bayi tersebut bisa diselamatkan. Akhirnya dengan berbagai cara (sesuai standard kebidanan) di pancing untuk bisa bernafas atau menangis. Dan bayi itupun merespon dengan menangis sekencang-kencangnya.

Bayi yang beruntung itu sekarang sudah berusia 38 tahun dan menduduki posisi penting di Aston Inn Jemursari Hotel Surabaya sebagai General Manager. Jabatan itupun baru diembannya dalam hitungan 2-3 bulan. Setelah malang melintang keliling kota pindah dari satu hotel ke hotel lainnya.

Awalnya Iwan terpaksa bekerja di hotel, karena keinginan masuk TNI selalu gagal. Dulu sambil menunggu pendaftaran dan pengumuman, dia sempat cari kerja serabutan. Pernah juga beberapa bulan menjadi tukang bangunan. Kemudian dia dipaksa oleh orang tua agar sekolah. Akhirnya pilihan dia jatuh ke sekolah pariwisata karena masuknya tidak sesulit universitas pada umumnya.

Pada tahun 2016 saat baru 2 bulan sekolah di Sekolah Pariwisata di Solo, dia langsung mencoba sebagai Part time/Casual Worker di FB Banquete di Hotel Lorin Solo. Kemudian daftar sekolah di IHS International Hotel School management Solo lulus 2018, dan posisi satu tahun sebelum Lulus sudah menjadi Staff FB di Novotel Solo. Selanjutnya dia malang melintang mencoba di satu hotel ke hotel lainnya. Sampai sekarang dia menjadi GM di hotel Aston Inn Jemursari Surabaya, kota dimana dia menemukan mantan pacar yang sekarang menjadi istrinya dan dikaruniai 3 putra putri.

Kembali ke kisah hidupnya, meskipun Iwan masih bayi ketika di vonis meninggal dan kemudian mendapat mukjizat untuk bisa dilahirkan dengan selamat sampai usia sekarang ini. Dengan cerita yang sudah dibungkus sedemikian rupa lewat orang tua, bude pakde plus orang sekampung, menurut dia memang susah untuk dijelaskan karena dia masih terlalu kecil. Tapi banyak hikmah dari kejadian tersebut yang selalu memaksa dia untuk senantiasa berpikir positif.

“Saya selalu memaksakan diri untuk berpikir yang baik-baik saja. Jangan banyak berpikir yang negative atau tidak baik. Karena sesungguhnya, dibalik musibah itu ada hikmah yang kita tidak menyadari kalau kita tidak berpikir secara positif.”pungkas Iwan menutup semua ceritanya.