Azzeldine Aliya Zahira : Atlit Anggar Nasional Yang Berhasil Raih Dokter di Universitas Hang Tuah Surabaya

dr Azzeldine Aliya Zahira (dokpri)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Tidak pernah terbayangkan dibenak seorang Azzeldine Aliya Zahira bisa mencapai titik sekarang ini. Mengucapkan sumpah dokter di Ruang Rapat Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya pada hari Senin (07/09/26). Dihadapan Dekan, para senior Dosen dan manajemen UHT. Bahkan didepan kedua orang tuanya, keluarga besarnya, relasi dan rekan-rekan sejawat.

Sosok dokter baru yang biasa disapa Azzel itu dengan penuh rasa haru mengucapkan rasa syukur dan terima kasih terutama ditujukan kepada kedua orang tuanya. Atas dukungan moril dan materil yang telah diberikan selama ini. Suatu perjalanan yang tidak mudah.

Hal itu disampaikan dr Azzeldine Aliya Zahira setelah dikukuhkan menjadi seorang dokter dan menyampaikan sambutannya sebagai perwakilan dari 4 dokter yang disumpah pagi itu.

Pada momen tersebut sekaligus menandai babak baru dalam hidupnya setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan. Keberhasilan meraih gelar dokter bukan sekadar pencapaian akademis baginya, tapi bukti nyata yang bisa dia wujudkan. Meskipun dia didiagnosa memiliki kebutuhan khusus yang hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sejak usia tiga tahun dan kidal (kiri dari lahir), tidak pernah mampu menghentikan langkahnya untuk meraih cita-cita yang diimpi-impikannya.

“Sebenarnya cita-cita saya menjadi tentara. Tapi saya juga ingin mengabdikan diri kepada masyarakat, terutama yang membutuhkan. Akhirnya terpikirlah untuk menjadi dokter, yang bermanfaat bagi sesama.” ujar Azzel.

Hebatnya, disela-sela kesibukannya menjalani pendidikan dokter. Azzel masih menyempatkan diri menggeluti profesi atlet Anggar. Bahkan sudah menjadi atlet nasional.

“Olah raga Anggar itu juga salah satu terapi, supaya saya bisa fokus. Itu juga karena saran dari teman-teman. Awalnya coba-coba akhinya jadi hobi. Terus lama-lama sudah menjadi bagian dari diri saya sebagai atlet.” jelasnya.

Meskipun anggar ditekuni disela-sela dia belajar di Fakultas Kedokteran UHT, tapi sempat menghantarkannya menjadi juara nasional. Itu yang menjadikan Azzel semakin semangat untuk menekuni olah raga yang lama-lama menjadi bagian dari hidupnya itu.

Berfoto bersama kedua orang tua dan Dekan FK UHT Surabaya (dokpri)

Bagi ibunda dari Azel – Virly Mevitasari juga keluarga, pencapaian ini adalah anugerah yang wajib disyukuri atas jerih payah yang tak kenal lelah. Dukungan dari orang tua dan keluarga sangatlah besar selama menjalani pendidikan kedokteran. Apalagi Azzel memiliki keterbatasan. Dia sempat down berkali-kali, karena pendidikan kedokteran sangat berbeda dengan kuliah pada umumnya.

“Saya sering bilang ke Azzel, jangan memaksakan diri. Nggak usah ngoyo. Karena perjalananmu sejauh ini sudah cukup luar biasa. Bahkan dia sering tantrum. Sempat minta break. Karena ADHD tingkat depresinya tinggi. Tapi semangat Azzel cukup tinggi. Saya sendiri tidak menyangka dia sampai di titik ini.” ujarnya penuh haru.

Rencana berikutnya, Azzel masih akan menentukan dua pilihannya. Antara masuk tentara atau melanjutkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

“Azzel masih bingung menentukan, mau masuk tentara atau ambil spesialis. Nantinya akan memilih antara spesialis jiwa atau obgyn. Kalau yang didepan mata itu internship sudah jelas.” pungkas Virly.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah (FK UHT) Surabaya dr Benny Jovie SpJP FIHA menjelaskan, Pelantikan dan Sumpah Dokter Batch Mei Angkatan CX 2026 diikuti empat dokter baru. Namun, sejak berdiri 38 tahun lalu, total lulusan Fakultas Kedokteran UHT Surabaya sebanyak 4.041 lulusan.

“Kali ini Fakultas Kedokteran UHT Angkatan 110. Diharapkan, para alumni menjadi dokter yang mumpuni dan berkontribusi yang terbaik di masyarakat. Karena tantangan-tantangan untuk menjadi dokter itu banyak, terutama setelah terjun ke tengah masyarakat.” tutupnya. (acs)