hariansurabaya.com | SURABAYA – Bagi mahasiswa perantau, momen Idulfitri merupakan hal yang paling dinanti untuk kembali ke kampung halaman dan merasakan hangatnya silaturahmi dengan keluarga.
Namun berbeda dengan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) asal Aceh, Wira Dharma Alrasyid, yang pada momen lebaran ini memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Meski ini adalah tahun pertamanya sebagai mahasiswa di Surabaya, keputusan tersebut telah ia pikirkan secara matang.
“Iya aku fix ngga pulang karena kebetulan keluarga juga sedang di Jakarta sekarang, tapi,
walaupun keluarga sedang di Aceh, aku tetap ga pulang soalnya liburnya sebentar banget
dari universitas,” pungkas Wira pada tim UNAIR NEWS.
Selain faktor waktu, lonjakan harga tiket pesawat di masa lebaran membuatnya memilih untuk menghemat biaya dan mencari pengalaman baru di perantauan.
Mencari Makna Rumah di Tanah Rantau
Bagi Wira, menikmati Idulfitri tanpa keluarga tentu memberikan kesan berbeda. Jika
biasanya ia selalu memasak menu kesukaan keluarganya, kini ia harus beradaptasi dan
menciptakan rasa nyaman sehingga bisa membawanya menemukan makna ‘rumah’ di
tanah rantau.
“Setidaknya masih ada hal-hal yang bisa bikin aku nyaman, entah itu lebaran dengan
teman-teman Surabaya atau yang lain,” tambahnya.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini beranggapan bahwa sebagai mahasiswa perantau, ia harus siap menghadapi segala kemungkinan dan kejutan dalam kehidupan.
Untuk mengisi waktu lebaran, Wira berencana melaksanakan salat Eid di masjid UNAIR. Tak hanya di Surabaya, ia juga berencana berkunjung ke Malang untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan teman-temannya.
Nostalgia Idulfitri di Aceh
Meskipun antusias untuk menyambut Idulfitri di Surabaya, Wira tidak menyangkal jika
banyak hal yang ia ingin lakukan seperti saat di kampung halaman.
Salah satunya membuat kue di Bulan Ramadan. Ia mengaku bahwa ia adalah sosok yang paling terampil dalam membuat kue kering dan bolu.
Wira juga memberikan pesan kepada sesama mahasiswa yang juga tidak bisa mudik Idul
Fitri tahun ini. Ia mengajak agar kita bisa menikmati momen untuk belajar dari tradisi Idul
Fitri di daerah lain.
“Memang awalnya terasa aneh dan sedih, tapi lebaran di tempat baru itu seru. Kita bisa
lebih mengerti tradisi daerah lain. Tapi yang paling penting, tetap jangan lupa video call
dengan keluarga di rumah,” ucapnya. (ist)















