Business Matching JCFF 2026 : Bank Indonesia Harap Makin Banyak Transaksi Perdagangan dan Buka Peluang Ekspor Baru

Business Matching JCFF 2026 : Bank Indonesia Harap Makin Banyak Transaksi Perdagangan dan Buka Peluang Ekspor Baru (foto : ist)

hariansurabaya.com | SURABAYA – Bank Indonesia melalui rangkaian 5th Java Coffee & Flavors Festival (JCFF) 2026 menggelar Business Matching Perdagangan pada 18–19 Juli 2026 di Hotel Kampi Surabaya.

Kegiatan ini menjadi agenda strategis untuk mempertemukan pelaku usaha, UMKM, eksportir, buyer domestik maupun internasional, serta mitra bisnis guna memperluas akses pasar komoditas unggulan Indonesia, khususnya kopi, teh, dan rempah-rempah.

Founder Akademi Mudah Ekspor, Ir. Fernanda Reza Muhammad, M.M., mengatakan pihaknya kembali dipercaya Bank Indonesia untuk memfasilitasi business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli potensial dari berbagai negara.

“Akademi Mudah Ekspor telah bekerja sama dengan 18 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia. Khusus di Jawa Timur, kami mendukung penyelenggaraan Java Coffee & Flavors Festival dengan membantu para pelaku usaha menemukan pasar melalui jaringan buyer yang kami miliki,” ujarnya.

Menurut Fernanda, buyer yang hadir tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari berbagai negara seperti Prancis, Nigeria, Yordania, Australia, Singapura, Malaysia, dan China. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kualitas serta keragaman kopi Indonesia.

“Mereka sangat terkejut karena ternyata varian kopi Indonesia sangat banyak dan memiliki cita rasa yang luar biasa. Setelah melihat hasil cupping score yang baik, mereka semakin mengapresiasi kualitas kopi yang dipamerkan di JCFF,” katanya.

Ia menjelaskan, kegiatan business matching ini merupakan rangkaian yang telah dimulai secara daring beberapa hari sebelumnya dan dilanjutkan dengan pertemuan tatap muka selama penyelenggaraan festival.

Sebanyak 85 pelaku usaha mengikuti business matching, sementara 50 UMKM turut berpartisipasi dalam showcase produk. Tidak hanya kopi, pelaku usaha komoditas teh dan rempah-rempah dari berbagai daerah di Indonesia juga ikut ambil bagian.

Fernanda mengungkapkan, tingginya permintaan kopi dunia saat ini berbanding terbalik dengan kondisi produksi yang mengalami penurunan akibat perubahan iklim.

“Produksi kopi tidak hanya turun di Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara penghasil kopi. Dampaknya, harga kopi meningkat karena pasokan semakin terbatas sementara permintaan terus bertambah. Ini menjadi tantangan bagi UMKM, roastery, maupun industri pengolahan kopi karena harus bersaing mendapatkan bahan baku,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu buyer kopi sekaligus tim kurasi, Andi Wijaya, menilai kualitas kopi yang ditampilkan dalam JCFF 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan, proses penilaian kualitas kopi dilakukan bersama para Q Grader yang telah memiliki sertifikasi internasional. Hasil penilaian tersebut kemudian menjadi referensi bagi buyer dalam menentukan produk yang akan dibeli.

“Kami memberikan laporan lengkap berupa cupping score dan penilaian setiap atribut cita rasa. Tahun ini kualitas kopi yang kami nilai cukup baik, bahkan ada beberapa kopi yang mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun lalu,” ujarnya.

Andi mencontohkan beberapa kopi dari produsen yang sebelumnya telah dikenalnya kini menunjukkan karakter rasa yang lebih bersih, elegan, dan memiliki proses pascapanen yang jauh lebih baik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kualitas kopi sejatinya sangat ditentukan sejak di tingkat kebun.

“Kalau ditanya faktor paling penting, sekitar 90 persen kualitas kopi ditentukan dari pengelolaan kebun. Pohon yang sehat, tanah yang baik, lingkungan yang mendukung, akan menghasilkan buah kopi berkualitas. Setelah itu baru proses pengolahan akan menyempurnakan hasilnya,” jelas Andi.

Ia juga menyoroti dampak perubahan iklim terhadap produktivitas kopi, khususnya jenis Arabika yang membutuhkan suhu lebih dingin. Kondisi cuaca yang semakin hangat membuat produksi di berbagai daerah menurun drastis, bahkan di sejumlah wilayah mencapai penurunan hingga 70 persen.

Karena itu, menurutnya, pendampingan kepada petani menjadi langkah penting agar kualitas dan produktivitas kopi Indonesia tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim.

Melalui Business Matching JCFF 2026, Bank Indonesia berharap semakin banyak transaksi perdagangan yang terjalin serta membuka peluang ekspor baru bagi kopi dan komoditas unggulan Indonesia ke pasar internasional. (acs)